July 2026

How a 200-Year-Old Poem Changed the Way I See Sustainability

Selama lebih dari tiga tahun terakhir, saya sering mendapat pertanyaan yang sama setiap kali memperkenalkan diri. “Lulusan Sastra Inggris? Kok bisa bekerja di bidang sustainability?” Saya selalu tersenyum canggung mendengarnya, karena dulu saya pun mempertanyakan hal yang sama. Jika dipikir-pikir, memang terdengar seperti dua dunia yang tidak saling bersinggungan. Sastra identik dengan puisi, novel, dan metafora, sementara sustainability dipenuhi istilah seperti ESG, perubahan iklim, emisi karbon, dan keanekaragaman hayati. Sulit rasanya melihat dua kata ini dalam satu kalimat. 

How a 200-Year-Old Poem Changed the Way I See Sustainability Read More »

Scroll to Top