“The world is too much with us; late and soon,
Getting and spending, we lay waste our powers.”
— William Wordsworth (1802)
Selama lebih dari tiga tahun terakhir, saya sering mendapat pertanyaan yang sama setiap kali memperkenalkan diri. “Lulusan Sastra Inggris? Kok bisa bekerja di bidang sustainability?” Saya selalu tersenyum canggung mendengarnya, karena dulu saya pun mempertanyakan hal yang sama. Jika dipikir-pikir, memang terdengar seperti dua dunia yang tidak saling bersinggungan. Sastra identik dengan puisi, novel, dan metafora, sementara sustainability dipenuhi istilah seperti ESG, perubahan iklim, emisi karbon, dan keanekaragaman hayati. Sulit rasanya melihat dua kata ini dalam satu kalimat.
Seiring waktu, saya menyadari bahwa mungkin saya yang keliru memahami sustainability. Saya mengira keberlanjutan hanya berbicara tentang lingkungan. Padahal, semakin banyak saya belajar, semakin saya memahami bahwa sustainability pada dasarnya adalah tentang keterhubungan. Hubungan antara manusia dan alam, antara organisasi dan masyarakat, serta antara keputusan yang kita ambil hari ini dengan masa depan yang sedang kita bentuk.
Kesadaran itu membawa saya kembali teringat ke bangku kuliah 11 tahun lalu. Saya membuka kembali catatan lama dan menemukan puisi The World Is Too Much with Us karya William Wordsworth. Puisi yang dulu saya baca untuk memenuhi tugas mata kuliah kini terasa seperti membaca realitas yang sedang kita hadapi.
Puisi tersebut ditulis pada awal abad ke-19, ketika Inggris memasuki Revolusi Industri. Mesin uap mempercepat produksi, kota-kota berkembang pesat, dan alam mulai dipandang sebagai sumber daya ekonomi. Di tengah euforia kemajuan itu, Wordsworth justru mengingatkan bahwa ada harga yang tidak terlihat, yaitu manusia perlahan kehilangan hubungannya dengan alam.
“Little we see in Nature that is ours;
We have given our hearts away, a sordid boon!”

Gambar 1. Ilustrasi Revolusi Industri (Foto : shasolo.com)
Puisi ini sedang mengingatkan bahwa ketika hidup hanya diukur dari seberapa banyak kita menghasilkan dan mengonsumsi, kita juga kehilangan kemampuan untuk melihat diri sebagai bagian dari dunia yang lebih besar. Pesan yang ditulis lebih dari dua abad lalu itu terasa sangat relevan di tengah diskusi mengenai pembangunan berkelanjutan saat ini.

Dalam kajian sastra, cara membaca seperti ini dikenal sebagai Ecocriticism, yaitu pendekatan yang mempelajari hubungan antara sastra dan lingkungan. Melalui perspektif ini, alam tidak lagi dipandang sekadar sebagai latar cerita, tetapi sebagai bagian yang membentuk kehidupan manusia (James & Morel, 2018). Karya sastra menjadi ruang untuk memahami bagaimana manusia membangun, menjaga, atau bahkan merusak relasinya dengan alam.
Refleksi tersebut juga membawa saya pada pemikiran filsuf Australia, Val Plumwood. Dalam Feminism and the Mastery of Nature (1993), Plumwood berpendapat bahwa akar krisis lingkungan bukan semata-mata persoalan teknologi atau industrialisasi, melainkan cara berpikir yang menempatkan manusia sebagai penguasa alam. Ia menulis:
“The illusion of human mastery of nature is one of the most dangerous illusions of Western culture.”
Kalimat itu mengubah cara saya memandang sustainability. Keberlanjutan ternyata bukan tentang mengendalikan alam semata, melainkan tentang menyadari bahwa kita hidup dalam sistem yang saling bergantung. Ketika satu bagian terganggu, bagian lain akan ikut merasakan dampaknya. Dan pemahaman itulah akhirnya yang membuat saya melihat pekerjaan saya di Dassa dengan cara yang berbeda.
Sebagai Head of Administration & Operations, saya tidak menghitung emisi karbon atau melakukan asesmen biodiversitas. Peran saya lebih banyak berkaitan dengan membangun sistem, memperkuat tata kelola, menghubungkan berbagai fungsi, dan memastikan setiap proyek memiliki dukungan operasional yang dibutuhkan. Dulu saya menganggap pekerjaan tersebut hanyalah sekadar fungsi pendukung di balik layar. Kini saya melihatnya sebagai bagian dari menjaga kesehatan sebuah ekosistem organisasi.
Analogi itu semakin terasa ketika saya membaca penelitian Suzanne Simard dan rekan-rekannya tentang jaringan jamur mikoriza yang menghubungkan akar-akar pohon di bawah tanah. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pohon tidak hidup secara terpisah, tetapi saling terhubung melalui jaringan yang memungkinkan mereka berbagi karbon, air, dan nutrisi (Simard et al., 1997). Bertahun-tahun kemudian, konsep ini menjadi lebih dikenal publik melalui istilah Wood Wide Web (Marshall, 2019).

Gambar 3. Wood Wide Web (Behance)
Organisasi pun demikian. Konsultan, analis, tim proyek, administrasi, keuangan, sumber daya manusia, hingga operasional bukanlah fungsi yang berdiri sendiri. Dampak yang dihasilkan Dassa bagi para klien lahir dari kolaborasi seluruh bagian organisasi yang saling mendukung, sering kali melalui pekerjaan yang tidak selalu tampak di permukaan.
Di situlah saya akhirnya menemukan benang merah antara Sastra Inggris dan sustainability. Sastra mengajarkan saya membaca hubungan, sedangkan sustainability mengajarkan saya merawat hubungan. Keduanya sama-sama mengingatkan bahwa tidak ada individu, organisasi, maupun alam yang dapat bertahan sendirian.

Mungkin Wordsworth tidak pernah membayangkan bahwa puisinya akan dibaca oleh seorang perempuan, dua abad kemudian, yang bekerja di sebuah perusahaan konsultan lingkungan. Namun sastra memang selalu seperti itu. Ia menolak dibatasi oleh ruang dan waktu. Ia hanya menunggu seseorang yang suatu hari membutuhkan maknanya kembali.
Kini, ketika seseorang kembali bertanya, “Kenapa kamu lulusan Sastra Inggris kerja di bidang sustainability? Apa hubungannya?”, sepertinya saya tidak lagi kesulitan menjawab. Hubungannya ternyata bukan pada apa yang saya pelajari atau kerjakan, melainkan pada cara saya belajar memandang dunia dengan perspektif yang baru.
Daftar Pustaka:
- James, E., & Morel, P. (2018). The Cambridge companion to literature and the environment. Cambridge University Press.
- Marshall, C. (2019, May 22). Wood wide web: Trees’ social networks are mapped. BBC News. https://www.bbc.com/news/science-environment-48257315
- Plumwood, V. (1993). Feminism and the mastery of nature. Routledge.
- Simard, S. W., Perry, D. A., Jones, M. D., Myrold, D. D., Durall, D. M., & Molina, R. (1997). Net transfer of carbon between ectomycorrhizal tree species in the field. Nature, 388(6642), 579–582. https://doi.org/10.1038/41557
- Wordsworth, W. (1807). The world is too much with us. Dalam Poems, in Two Volumes. Longman.