Di balik kabut asap yang kembali menyelimuti Kalimantan, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) gambut 2026 bukan sekadar “déjà vu” iklim, melainkan cerita tentang konvergensi1 dari berbagai faktor yang selama ini luput dari perhatian.
Setiap kali musim kering datang dan api kembali muncul, perhatian kita mudah tertuju pada satu hal: cuaca. El Niño, kemarau panjang, hingga curah hujan yang rendah memang berpengaruh. Namun, kebakaran gambut2 tidak pernah hanya karena satu sebab.
Ada gambut yang semakin kering. Ada kanal yang mengubah tata air. Ada tutupan lahan yang terus berubah. Ada pula aktivitas manusia. Ketika semua kerentanan tersebut bertemu dengan kondisi iklim yang semakin kering, risiko kebakaran pun meningkat.
Karhutla gambut bukan cerita tentang satu penyebab.
Ia adalah cerita tentang konvergensi.

SiPongi3 Kementerian Kehutanan mencatat luas karhutla nasional sepanjang Januari–Juni 2026 telah mencapai 107.465,47 hektare. Dibandingkan periode yang sama pada 2019, angka ini naik 58.631,66 hektare, atau sekitar 120%, dan itu baru separuh tahun 2026.
Asap kembali menjadi pemandangan sehari-hari sejak awal Agustus, sampai muncul guyonan getir bahwa Indonesia kini memiliki tiga musim: kemarau, hujan, dan asap.
Sumatera Selatan, Bromo, Kalimantan Tengah, hingga Papua Barat Daya mengalami kebakaran. Pantau Gambut mencatat titik panas yang mengepung Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) di seluruh Indonesia melonjak dari 141 titik pada Desember 2025 menjadi 12.942 titik pada Maret 2026, jauh sebelum puncak kemarau tiba (Maulana, 2026).
Namun, dari berbagai wilayah yang terbakar, ada satu ekosistem yang menurut saya perlu mendapat perhatian lebih serius: gambut, khususnya di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Bukan hanya karena luasnya. Gambut memiliki cara terbakar yang berbeda. Api dapat menjalar perlahan di bawah permukaan tanah, jauh sebelum asapnya terlihat di atas permukaan. Dan sampai sekarang, kita masih kerap keliru menanganinya karena belum sepenuhnya memahami apa yang sebenarnya terjadi ketika gambut terbakar.
Tulisan ini saya susun berdasarkan analisis geospasial internal yang kami kerjakan di Climate Team Dassa, dengan membandingkan musim kemarau 2019 dan 2026 pada area gambut di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Bukan Firasat, Ini Angka
Kami memetakan hotspot4 MODIS5 dengan kategori high confidence (confidence ≥80%), menggabungkannya dengan burn severity6 index dari citra Sentinel-27, kemudian memvalidasi silang keduanya agar area yang dihitung benar-benar menunjukkan indikasi terbakar, bukan sekadar mengalami perubahan reflektansi8.
Agar perbandingannya setara, kami menggunakan interval musim kemarau yang sama, yaitu Juli–Agustus, sebagai jendela perbandingan kedua tahun. Estimasi emisi kemudian dihitung menggunakan faktor emisi FREL9 Indonesia edisi kedua (2022).

Di Kalimantan Barat, luas gambut terbakar yang teridentifikasi meningkat dari 4.897,59 hektare menjadi 12.790,60 hektare, atau sekitar 161%. Sementara di Kalimantan Tengah, luasnya meningkat dari 3.168,36 hektare menjadi 5.997,11 hektare, atau sekitar 89%.
Rata-rata emisi kebakaran gambut yang kami hitung mencapai sekitar 509 ton CO₂eq per hektare gambut terbakar (460 ton berasal dari CO₂ dan 49 ton setara CO₂ dari CH₄) dengan total emisi 9.56 juta ton CO₂eq. Angka ini setara emisi tahunan sekitar 2 juta mobil pribadi (US EPA, n.d.), atau konsumsi listrik sekitar 2,2 juta rumah tangga Indonesia selama setahun penuh (Kementerian ESDM 2024, Febijanto 2010, BPS 2019).
Besarnya angka ini sejalan dengan karakteristik gambut yang menyimpan karbon dari akumulasi bahan organik selama ribuan tahun. Ketika terbakar, cadangan karbon tersebut dapat terlepas dalam jumlah yang jauh lebih besar dibandingkan kebakaran di lahan mineral.
Tulisan ini disusun pada akhir Agustus 2026, dimana data hotspot September belum tersedia secara penuh. Sementara pada 2019, September sendiri menyumbang 5.062 hotspot, atau sekitar 77% dari total tahunan sebanyak 6.550 titik.
Coba sekarang kita lihat yang terjadi tahun ini. Agustus 2026 saja telah mencatat 2.982 hotspot, lebih dari tiga kali lipat jumlah hotspot Juli-Agustus 2019 jika digabungkan. Jika pola tahun 2019 kembali terjadi, maka musim kebakaran 2026 kemungkinan besar belum mencapai puncaknya ketika tulisan ini dibuat.



“Godzilla El Niño”? Mari Luruskan
Istilah “Godzilla El Niño” bukan istilah resmi dalam klimatologi. BMKG sendiri menyebut istilah tersebut hiperbolis dan tidak dikenal dalam khazanah klimatologi dunia.
Namun, ini bukan berarti ancaman iklim tidak terdeteksi. BMKG sudah mendeteksi transisi menuju El Niño sejak akhir Maret, jauh sebelum istilah “Godzilla El Niño” ramai dipakai publik. Rapat koordinasi lintas lembaga berlangsung sejak April 2026. Armada udara disiapkan. Operasi modifikasi cuaca juga dilakukan.
Jadi, persoalannya bukan pemerintah buta terhadap ancaman ini. Masalahnya ada pada arah responnya.
Hampir semua instrumen tersebut masih berorientasi pada penanganan ketika risiko kebakaran sudah meningkat atau ketika kebakaran telah terjadi. Padahal, pada ekosistem gambut, respons darurat saja tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan yang sifatnya struktural.
Bukan Sekadar Semprot Air dan Tabur Tepung
Yang lebih mendasar justru ada pada cara kita memahami logika pemadaman kebakaran gambut.
Kebakaran gambut bukan kebakaran permukaan biasa. Apinya dapat menjalar di bawah tanah melalui proses smouldering10, yaitu pembakaran lambat tanpa nyala api yang jelas, tetapi mampu bertahan dalam waktu lama, bahkan bisa muncul kembali jauh dari titik awal ketika kondisi gambut cukup kering dan mendapat cukup oksigen.
Studi laboratorium menggunakan sampel gambut Indonesia menemukan bahwa penyemprotan air jangka pendek dari permukaan tidak cukup untuk memadamkan proses smouldering. Meski api di permukaan terlihat padam, bara yang tersisa di lapisan gambut yang lebih dalam belum tentu ikut mati dan dapat kembali memicu kebakaran (Ramadhan et al., 2017).
Artinya, air harus mencapai sumber panas di kedalaman, bukan sekadar membasahi permukaan. Salah satu caranya adalah melalui suntik gambut, yaitu menginjeksikan air bertekanan tinggi langsung ke lapisan gambut yang lebih dalam.

Namun, memadamkan api hanya menyelesaikan persoalan ketika kebakaran terjadi. Padahal, persoalan yang lebih penting justru: mengapa gambut menjadi kering sehingga bisa terbakar?
Selama gambut dibiarkan kering, sekat kanal11 dibiarkan rusak, dan alat suntik gambut tetap langka, kita akan terus bergantung pada water bombing12 dan modifikasi cuaca yang bahkan butuh awan untuk bisa dilakukan. Padahal, kondisi yang memungkinkan terjadinya kebakaran belum benar-benar hilang.
Rawa yang Dituduh Tidak Produktif
Di balik persoalan teknis tersebut, ada cara pandang lama yang ternyata ikut membentuk persoalan hari ini. Gambut pernah dianggap sebagai lahan basah yang “tidak produktif”, sehingga pengeringan dan konversi dipandang wajar untuk membuatnya lebih berguna. Cara pandang inilah yang kemudian ikut membenarkan drainase besar-besaran pada berbagai lanskap gambut di Sumatera dan Kalimantan.
Padahal, gambut tropis Indonesia menyimpan karbon dalam jumlah yang sangat besar. Simpanannya dapat melampaui 1.000 ton karbon per hektare, bahkan pada lokasi dengan lapisan gambut yang sangat tebal dapat mencapai sekitar 7.500 ton per hektare (Warren et al., 2017). Sebagai perbandingan, hutan tropis klimaks13 rata-rata hanya menyimpan sekitar 130–240 ton karbon per hektare pada biomassa di atas permukaan.
Tak berhenti di situ, gambut juga berperan menjaga keseimbangan air di sekitarnya. Ia meredam banjir saat hujan, sekaligus menjaga aliran dasar sungai tetap stabil saat musim kemarau dengan melepaskan air yang tersimpan secara perlahan (Warren et al., 2017).
Dengan kata lain, selama ribuan tahun gambut sebenarnya sudah bekerja “secara produktif”. Hanya saja, produktivitasnya tidak hadir dalam bentuk yang biasa kita hitung sebagai keuntungan ekonomi jangka pendek.
Ironisnya, mengabaikan fungsi-fungsi alamiah tersebut justru harus dibayar mahal. Kajian ekonomi lingkungan memperkirakan kebakaran di Indonesia menimbulkan kerugian ekonomi dan kesehatan dalam skala miliaran dolar. Studi yang sama menunjukkan bahwa investasi pada restorasi gambut dapat memberikan manfaat bersih jangka panjang dibanding dengan membiarkan lanskap terus terdegradasi dan berulang kali terbakar (Kiely et al., 2021).
Dari sisi kesehatan, paparan asap gambut juga meningkatkan risiko penyakit pernapasan dan kematian dini di wilayah terdampak (Hein et al., 2022). Ini adalah harga yang jarang masuk hitungan untung rugi sebuah konversi lahan.
Penyebab Dulu, Baru Solusi
Keberhasilan penanganan karhutla gambut tidak cukup diukur dari berapa banyak hotspot yang berhasil ditekan atau berapa banyak armada yang dikerahkan. Keduanya memang penting dalam situasi darurat, tetapi belum menjawab satu hal yang lebih mendasar: apakah akar masalah yang membuat gambut rentan terbakar benar-benar sudah diperbaiki?
Salah satu indikator penting adalah terjaganya muka air tanah14 gambut pada batas yang ditetapkan pemerintah, yakni 40 sentimeter di bawah permukaan gambut pada titik penataan, sebagaimana diatur dalam PP No. 57 Tahun 2016 tentang Perubahan atas PP No. 71 Tahun 2014 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut. Untuk mencapainya, berbagai upaya pembasahan gambut harus dilakukan, salah satunya melalui pembangunan sekat kanal.
Namun, keberhasilan sekat kanal bukan sekadar soal berapa banyak yang dibangun, melainkan apakah ia benar-benar mampu menahan air dan membantu menjaga gambut tetap basah. Studi terbaru terkait upaya pembasahan gambut di lanskap restorasi dan non-restorasi di Sumatera dan Kalimantan menunjukkan bahwa sekat kanal membutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk benar-benar efektif menahan air, dan memerlukan perawatan rutin agar fungsinya tetap terjaga. Studi tersebut juga menemukan bahwa mayoritas sekat kanal yang dibangun sejak 2015 telah mengalami kerusakan (Salmayenti et al., 2026).
Singkatnya, membangun infrastruktur saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah memastikan fungsi yang ingin dipulihkan benar-benar kembali bekerja, dan itu hanya bisa dibuktikan dengan data tinggi permukaan air lahan gambut, bukan dari foto seremonial belaka.
Lalu, mengapa gambut yang telah direstorasi pun masih rawan terbakar? Jawabannya kembali menunjukkan bahwa kebakaran gambut tidak pernah ditentukan oleh satu faktor. Kepadatan drainase dan jenis tutupan lahan saling berinteraksi dalam mempengaruhi kejadian kebakaran gambut. Gambut berkanal memiliki kepadatan hotspot hingga 13 kali lebih tinggi dibandingkan gambut tanpa kanal. Perbedaannya bahkan paling besar pada gambut yang masih berhutan, bukan pada lahan yang telah terbuka (Salmayenti et al., 2025).

Temuan tersebut diperkuat oleh pemodelan spatio-temporal machine learning yang digunakan untuk meninjau risiko kebakaran gambut tropis. Sebuah studi menunjukkan bahwa jenis tutupan lahan dan curah hujan menjadi dua faktor penting dalam kejadian kebakaran gambut, sementara aktivitas manusia juga memberikan kontribusi yang signifikan (Mahdiyasa et al., 2026).
Di sinilah gambaran besarnya mulai terlihat.
Curah hujan memengaruhi seberapa kering kondisinya.
Drainase memengaruhi kemampuan gambut mempertahankan air.
Tutupan lahan memengaruhi kondisi ekologisnya.
Sementara aktivitas manusia ikut memengaruhi kemungkinan
munculnya sumber api.
Faktor-faktor tersebut bertemu, saling berinteraksi, dan
pada kondisi tertentu menciptakan lanskap gambut yang
semakin rentan terhadap kebakaran.
El Niño, dengan atau tanpa label “Godzilla”, memang dapat memperburuk keadaan. Tapi kebakaran gambut tidak dimulai ketika El Niño datang. Persoalannya sudah terbentuk jauh sebelumnya. Dan selama perhatian kita baru tertuju pada gambut ketika hotspot bermunculan, saat asap mulai menyelimuti kota, atau kala api sudah sulit dipadamkan, kita hanya akan terus sibuk menangani akibat tanpa benar-benar mencegah penyebabnya.
Itulah mengapa karhutla gambut tidak bisa terus dipandang sebagai kejadian musiman yang datang saat kemarau tiba. Selama berbagai penyebab di baliknya belum ditangani secara menyeluruh hingga ke akarnya, kebakaran akan terus datang seperti persoalan baru, padahal pola yang sama sudah berulang kali kita lihat. Ini bukan dugaan, sains sudah cukup jelas bicara soal ini. Semuanya menunjukkan pola konvergensi yang sama secara berulang.
Yang belum terjawab tinggal satu:
Kapan kita akan benar-benar mendengarkan, jauh sebelum gambut kembali terbakar, bukan setelahnya?
Daftar Pustaka :
- Badan Pusat Statistik. (2019). Rumah tangga dan rata-rata banyaknya anggota rumah tangga menurut provinsi, 2019. Badan Pusat Statistik
- Febijanto, I. (2010). Perhitungan faktor emisi di sistem jaringan ketenagalistrikan Jawa-Madura-Bali. Jurnal Teknologi Lingkungan, 11(2), 227–237.
- Hein, L., Spadaro, J. V., Ostro, B., Hammer, M., Sumarga, E., Salmayenti, R., Boer, R., Tata, H., Atmoko, D., & Castañeda, J.-P. (2022). The health impacts of Indonesian peatland fires. Environmental Health, 21, Article 62. https://doi.org/10.1186/s12940-022-00872-w
- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. (2024, January 15). Kinerja sektor ketenagalistrikan tahun 2023: Penyediaan tenaga listrik cukup, andal, berkelanjutan, terjangkau dan berkeadilan. Kementerian ESDM
- Kiely, L., Spracklen, D. V., Arnold, S. R., Papargyropoulou, E., Conibear, L., Wiedinmyer, C., Knote, C., & Adrianto, H. A. (2021). Assessing costs of Indonesian fires and the benefits of restoring peatland. Nature Communications, 12, Article 7044. https://doi.org/10.1038/s41467-021-27353-x
- Krisnawati, H., Volkova, L., Budiharto, B., Zamzani, F., Adinugroho, W. C., Qirom, M. A., & Weston, C. J. (2023). Building capacity for estimating fire emissions from tropical peatlands: A worked example from Indonesia. Scientific Reports, 13, Article 14355. https://doi.org/10.1038/s41598-023-40894-z
- Mahdiyasa, A. W., Chaim, J. F., Pasaribu, U. S., Sumarga, E., Muljadi, B. P., & Chrysanti, A. (2026). A calibrated spatio-temporal machine learning model for tropical peatland fire risk. Natural Hazards Research. Advance online publication. https://doi.org/10.1016/j.nhres.2026.07.007
- Maulana, I. (2026, April 20). Waswas El Nino Godzilla, waspada karhutla dan kekeringan ekstrem. Mongabay Indonesia. https://mongabay.co.id/2026/04/20/waswas-el-nino-godzilla-waspada-karhutla-dan-kekeringan-ekstrem/
- Ramadhan, M. L., Palamba, P., Imran, F. A., Kosasih, E. A., & Nugroho, Y. S. (2017). Experimental study of the effect of water spray on the spread of smoldering in Indonesian peat fires. Fire Safety Journal, 91, 671–679. https://doi.org/10.1016/j.firesaf.2017.04.012
- Salmayenti, R., Baird, A. J., Holden, J., & Spracklen, D. V. (2025). Drainage density and land cover interact to affect fire occurrence in Indonesian peatlands. Environmental Research Letters, 20(5), 054036. https://doi.org/10.1088/1748-9326/adc755
- Salmayenti, R., Holden, J., Baird, A. J., Rigby, R., & Spracklen, D. V. (2026). Tropical peatland restoration reduces fire occurrence. Geophysical Research Letters, 53(11), e2025GL121564. https://doi.org/10.1029/2025GL121564
- U.S. Environmental Protection Agency. (n.d.). Greenhouse gas emissions from a typical passenger vehicle. Retrieved August 31, 2026, from U.S. Environmental Protection Agency
- Warren, M., Hergoualc’h, K., Kauffman, J. B., Murdiyarso, D., & Kolka, R. (2017). An appraisal of Indonesia’s immense peat carbon stock using national peatland maps: Uncertainties and potential losses from conversion. Carbon Balance and Management, 12, Article 12. https://doi.org/10.1186/s13021-017-0080-2
- Konvergensi : Pertemuan beberapa faktor atau kondisi yang saling berinteraksi dan bersama-sama menghasilkan suatu dampak. ↩︎
- Gambut : Tanah yang terbentuk dari akumulasi bahan organik yang terdekomposisi secara tidak sempurna dalam kondisi jenuh air selama waktu yang sangat panjang. ↩︎
- SiPongi : Singkatan dari Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan, yang merupakan sistem informasi resmi dari Kementerian Kehutanan yang menyajikan data titik panas (hotspot) dan pemantauan kebakaran hutan di Indonesia secara near real-time. ↩︎
- Hotspot : Titik panas yang terdeteksi sensor satelit dan dapat menjadi salah satu indikator awal potensi kebakaran. ↩︎
- MODIS : Sensor satelit yang antara lain digunakan untuk mendeteksi anomali panas atau hotspot di permukaan bumi. ↩︎
- Burn Severity : Ukuran tingkat keparahan dampak kebakaran pada suatu area. ↩︎
- Sentinel-2 : Satelit pengamatan bumi yang menyediakan citra multispektral untuk mengamati kondisi dan perubahan permukaan bumi. ↩︎
- Reflektansi : Ukuran seberapa banyak energi atau cahaya yang dipantulkan suatu permukaan dan ditangkap oleh sensor satelit. ↩︎
- FREL (Forest Reference Emission Level) : Tingkat acuan emisi dari sektor kehutanan yang digunakan dalam penghitungan dan pelaporan emisi. ↩︎
- Smouldering : Proses pembakaran lambat tanpa nyala api yang jelas dan dapat berlangsung di bawah permukaan gambut. ↩︎
- Sekat Kanal : Struktur pada kanal yang digunakan untuk menahan aliran air keluar dan membantu menjaga gambut tetap basah. ↩︎
- Water Bombing : Metode pemadaman kebakaran dari udara dengan menjatuhkan air menggunakan pesawat atau helikopter. ↩︎
- Hutan Tropis Klimaks : Hutan hujan alami yang sudah mencapai tahap akhir, paling tua, dan paling stabil. Di titik ini, hutan telah seimbang dengan alam sekitarnya sehingga jenis pohon dan hewan di dalamnya tidak lagi berubah drastis. ↩︎
- Muka Air Tanah (MAT) : Posisi atau kedalaman muka air di bawah permukaan gambut yang dapat digunakan sebagai salah satu indikator kondisi hidrologis gambut. ↩︎