Ketika Alam Berbicara, Sudahkah Kita Mendengar?

Ketika air mulai surut di berbagai wilayah Sumatra, yang tertinggal bukan hanya lumpur dan puing-puing. Yang tersisa adalah duka yang jauh lebih dingin daripada banjir yang melanda Aceh, lebih kelam daripada longsor di Sumatra Utara, dan lebih sunyi daripada reruntuhan di Sumatra Barat. Hingga penghujung tahun 2025, 1.112 jiwa telah hilang (Kompas.com, 23/12). Di balik setiap angka, ada nama, ada keluarga, ada masa depan yang terputus.

Peristiwa ini bukan sekadar bencana. Ia adalah peringatan. Sebab setiap tindakan manusia yang memusuhi alam pada akhirnya akan kembali kepada manusia. Tragisnya, dampak itu sering kali tidak menimpa pelaku, melainkan mereka yang tidak pernah terlibat: masyarakat kecil, hewan-hewan liar yang tak bersuara, dan alam itu sendiri, yang diam, tetapi tak pernah lupa.

Alam tidak berbicara dengan kata-kata. Ia berbicara melalui banjir, longsor, kekeringan, dan api. Suka atau tidak, kita hidup di Antroposen, sebuah zaman ketika aktivitas manusia menjadi kekuatan utama yang mengubah sistem bumi. Seperti yang diingatkan oleh Robin Chazdon, sistem alam kini telah berubah secara masif akibat aktivitas manusia dalam skala planet. Dalam zaman ini, peran manusia seharusnya bukan merusak, melainkan mengendalikan, menjaga, dan merawat.

Pesan ini telah lama disampaikan. Pada tahun 2015, Conservation International meluncurkan seri film pendek Alam Berbicara (Nature Is Speaking). Di sana, alam tidak meminta simpati. Alam hanya mengingatkan: “Aku tidak membutuhkanmu. Kamulah yang membutuhkan aku.”

Ilmu pengetahuan pun telah berbicara dengan lantang. Dalam bukunya “How to Avoid a Climate Disaster”, Bill Gates menegaskan bahwa jalan keluar dari krisis iklim sebenarnya telah tersedia. Tantangan terbesar bukan lagi pengetahuan, melainkan keberanian untuk berubah. Kita harus berani meninggalkan cara hidup lama dan mentransformasi cara kita memproduksi energi, mengelola pangan, membangun kota, dan mendefinisikan kemajuan.

Dunia terus berubah. Alam pun berubah. Maka manusia juga harus berubah. Jika tidak sekarang, kelak kita akan dipaksa berubah, dengan cara yang jauh lebih menyakitkan.

Di akhir tahun ini, film Avatar: Fire and Ash hadir. Bagi saya, film ini bukan sekadar hiburan, melainkan pengingat tentang bagaimana seharusnya manusia terhubung dengan alam. Kisah suku Na’vi yang menjaga Pandora, dan manusia yang datang untuk mengeksploitasi sumber daya berharga, adalah cermin dari dunia kita sendiri, tentang benturan kepentingan ekonomi dengan keberlangsungan hidup makhluk lain. Sebuah konflik yang telah kita ciptakan sejak lama.

Namun seringkali kita lupa satu hal penting: dampak besar tidak selalu lahir dari tangan para penguasa, para pembuat kebijakan, atau mereka yang duduk di ruang-ruang pengambil keputusan. Dampak besar juga bisa lahir dari kita, manusia kecil, yang kerap merasa terlalu tidak berarti untuk berpengaruh.

Padahal sebagai manusia kecil pun, kita tetap memiliki pilihan: apakah kita akan diam dan mengamati, atau bergerak dan bertindak, mewakili mereka yang tak memiliki suara; hewan-hewan di hutan, ekosistem yang terpinggirkan, dan alam yang tak pernah bisa menyampaikan keluhannya dengan kata-kata.

Di Dassa, tahun ini kami mencoba memulai dari langkah yang sangat sederhana. Kami menginisiasi sebuah gerakan kecil bernama Carbon Race Challenge. Sistemnya pun masih sangat awal, hanya menggunakan Google Form. Melalui sistem sederhana ini, kami mencatat aksi-aksi harian yang kami lakukan dalam mendukung alam.

Aksinya tidak heroik. Hanya keputusan-keputusan kecil: berpindah dari kendaraan pribadi ke transportasi publik, memilih berjalan kaki, mengurangi perjalanan yang tidak perlu. Namun dari langkah-langkah kecil itu, tercatat bahwa kami telah mengurangi 6.742,20 kg CO₂e,yang kira-kira setara dengan 337 pohon.

Angka ini mungkin tidak mengubah dunia. Dan kami pun sadar, masih banyak tindakan kami yang justru merugikan alam. Namun kami percaya, apa yang tercatat ini adalah jejak niat bahwa kami mencoba, bahwa kami tidak sepenuhnya diam.

Tulisan ini saya susun sebagai ajakan untuk merenung. Karena pada akhirnya, kita hanyalah manusia, makhluk yang sepenuhnya bergantung pada alam untuk hidup, bernapas, dan bertahan. Kita tidak memiliki bumi ini. Kita hidup di dalamnya.

Saya berharap, kamu yang membaca tulisan ini juga ikut tergerak. Karena ini bukan tentang seberapa besar dampak yang bisa kita berikan kepada alam. Ini tentang keputusan yang kamu ambil hari ini: apakah kamu mulai bergerak untuk melindunginya, atau memilih menjadi pengikut ketika perubahan itu sudah tak terhindarkan.

Daftar Pustaka :

  1. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). Sixth Assessment Report (AR6). AR6 Synthesis Report, Summary for Policymakers, March 2023.
  2. Chazdon, R. (2014). Second Growth: The Promise of Tropical Forest Regeneration in an Age of Deforestation. University of Chicago Press.
  3. Conservation International. Nature Is Speaking film series (2015). https://www.conservation.org/nature-is-speaking
  4. Gates, B. (2021). How to Avoid a Climate Disaster: The Solutions We Have and the Breakthroughs We Need. Knopf.

Bagikan Wawasan

Facebook
X
LinkedIn
WhatsApp
Threads

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Scroll to Top