Di Garis Depan Melindungi Keanekaragaman Hayati dari Pencemaran Plastik

Kita sudah hidup sekitar 100 tahun sejak inovasi plastik pertama kali lahir, sekitar 70 tahun sejak produk plastik digunakan secara massal (Thompson et al., 2009), dan sekitar 50 tahun sejak plastik secara resmi diakui sebagai salah satu sumber pencemaran global (International Maritime Organization, 1988). Saat saya menulis tulisan ini, saya berusia 24 tahun, dan pesan “buang sampah pada tempatnya” sudah ada sejak saya duduk di bangku taman kanak-kanak. Namun hingga hari ini, persoalan sampah plastik masih dapat kita temui hampir di setiap sudut kehidupan.

Lalu, di mana lagi kita dapat menemukan tempat yang benar-benar bebas dari sampah plastik? Di Gunung Everest? Napper et al. (2020) telah menemukan serat mikro poliester. Di Palung Mariana pada kedalaman 10.898 meter, Chiba et al. (2018) menemukan kantong plastik. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa pencemaran plastik telah melampaui batas geografis dan ekosistem.

Hingga kini belum terdapat aturan yang benar-benar ketat terkait sampah plastik. Di negara saya khususnya, perkembangan kebijakan masih sebatas imbauan kepada produsen untuk bertanggung jawab atas limbah yang dihasilkan oleh produk mereka. Jujur saja, saat saya menulis ini, saya masih bisa masuk ke toko, membeli makanan dalam kemasan plastik, memperoleh kantong plastik secara gratis tanpa batasan, dan membuangnya di manapun tanpa dikenai denda. Mengapa kita membiarkan hal tersebut terjadi dengan begitu mudah sekaligus gratis?

Selama masa perkuliahan, saya mengambil spesialisasi biologi lingkungan dan mendapat kesempatan untuk terlibat langsung dalam berbagai penelitian lapangan, baik di ekosistem terestrial maupun perairan. Tidak hanya di ranah akademik, saya juga aktif mengikuti kegiatan lapangan melalui organisasi yang berfokus pada isu-isu konservasi.

Uniknya, di samping kegiatan akademik tersebut, saya kerap diberi kesempatan untuk berkontribusi dalam upaya penanganan sampah plastik. Mulai dari isu sampah secara umum, saya berinisiatif mengurangi sampah tekstil dengan memanfaatkan serat rami sebagai bahan produksi sepatu. Selanjutnya, melalui riset pengolahan air limbah, saya mempelajari bagaimana teknologi kimiawi dan biologis dapat mengembalikan air limbah menjadi air bersih. Hingga akhirnya, saya menginisiasi kegiatan coastal cleanup saat mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Pantai Karapyak, Pangandaran.

Gambar 1. Analisis morfologi paparan mikroalga terhadap mikroplastik menggunakan Scanning Electron Microscopy (SEM) di Laboratorium Sentral Universitas Padjadjaran (Foto: Dokumentasi penulis)

Keterlibatan saya kemudian mulai berkaitan langsung dengan isu keanekaragaman hayati. Skripsi saya meneliti dampak mikroplastik terhadap mikroorganisme perairan. Diketahui bahwa limbah plastik yang dilepaskan ke lingkungan dapat terurai menjadi mikroplastik (Andrady, 2011). Jenis dan sumber mikroplastik sangat beragam; mikroplastik primer berasal dari serat yang dilepaskan dari tekstil saat pencucian dan dari microbeads, sedangkan mikroplastik sekunder berasal dari plastik berukuran lebih besar yang telah terurai (Wisewell, 2025). Selain itu, berbagai jenis plastik juga telah ditemukan, seperti LDPE, HDPE, PP, PS, nilon, PET, dan PVC (Andrady, 2011).

Berbagai studi menunjukkan bahwa mikroplastik memberikan dampak serius terhadap mikroorganisme perairan dan ekosistemnya. Seperti yang saya tulis dalam penelitian saya, di mana mikroplastik membuat kekayaan spesies mikroalga serta biomassa perifiton menurun secara signifikan (Gandaseputra, 2024). Selain itu, mikroplastik dapat tertelan oleh mikroorganisme dan berpindah ke tingkat rantai makanan yang lebih tinggi melalui transfer trofik, hingga akhirnya mencapai makanan laut yang umum kita konsumsi (Baechler et al., 2020).

Saat ini, saya berkesempatan untuk bekerja sebagai Climate and Biodiversity Specialist di Dassa. Melalui peran ini, saya belajar lebih dalam mengenai implementasi ilmu konservasi keanekaragaman hayati di lapangan. Softskill yang sebelumnya saya terapkan dalam riset, seperti analisis dan visualisasi data, kini dapat saya implementasikan pada tingkat profesional saat menyusun laporan kepada klien.

Tidak hanya itu, bekerja di Dassa juga memberikan saya kesempatan untuk memegang tanggung jawab yang lebih besar, seperti terlibat dalam penyusunan Annual Workplan (AWP), di mana saya membantu merancang rencana kegiatan tahunan, jadwal pelaksanaan, serta anggaran untuk menjalankan proyek karbon.

Gambar 2. Pemaparan program “Green Steps Inside” Dassa. (Foto: Dassa)

Ilmu dan pengalaman yang saya peroleh di Dassa saya integrasikan dengan keresahan pribadi terhadap polusi plastik, sekaligus saya implementasikan langsung di lapangan. Saya mendapat kesempatan untuk ikut mendirikan sebuah startup pengelolaan sampah bernama O’Waste. Melalui inisiatif ini, kami menerima hibah sebesar USD 40.000 untuk menangani permasalahan plastik dan keanekaragaman hayati.

Salah satu program yang kami jalankan adalah kegiatan forest cleanup di Desa Wangunharja, Kabupaten Bandung, yang merupakan bagian dari Taman Hutan Raya Djuanda. Kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), yang diketahui memiliki perilaku mengonsumsi sampah plastik.

Gambar 3. Interaksi monyet ekor panjang dengan sampah plastik (Foto: erik karits (a) dan wirestock (b) di Freepik)

Kegiatan ini mendukung konservasi keanekaragaman hayati dengan mengurangi sampah plastik yang dapat mengganggu wilayah jelajah, pola makan, dan ukuran populasi monyet ekor panjang. Monyet ekor panjang merupakan primata omnivora yang bergantung pada sumber makanan alami untuk menjaga nutrisi, perilaku, dan kesehatannya (Oriza et al., 2019; Chapman et al., 2012). Sampah plastik dan makanan manusia dapat mengganggu pola makan alami serta mengurangi peran mereka dalam penyebaran biji, yang penting bagi regenerasi hutan (Lestari et al., 2024).

Dengan menghilangkan sampah plastik, proyek ini menurunkan risiko tersebut dan membantu mempertahankan ketergantungan monyet pada makanan alami. Hal ini mendukung perilaku jelajah yang lebih luas serta proses penyebaran biji secara alami (Sengupta et al., 2015). Selain itu, monyet yang bergantung pada makanan manusia cenderung lebih sering berada di dekat jalan, membuang kotoran di lokasi yang kurang sesuai untuk pertumbuhan biji, serta menunjukkan perilaku yang lebih agresif terhadap manusia, yang kerap berujung pada konflik dan anggapan sebagai hama (Priston & McLennan, 2013).

Gambar 4. Pengumpulan sampah di Desa Wangunharja, Kabupaten Bandung (Foto: O’Waste)

Penelitian lain juga mendukung temuan saya. Thamsenanupap et al. (2024) menemukan keberadaan mikroplastik dalam feses Macaca fascicularis. Temuan ini menjadi bukti kuat bahwa plastik dapat membahayakan monyet ekor panjang. Kasus serupa juga terjadi pada spesies lain. Burung Leptoptilos dubius di Assam, India, dilaporkan meninggalkan lahan basah akibat kekeringan dan kekurangan sumber makanan, sehingga memaksa spesies tersebut mencari makan di tempat pembuangan sampah (Nature on PBS, 2024).

Menurut saya, penelitian ke depan mengenai hubungan antara keanekaragaman hayati dan polusi plastik dapat dibagi ke dalam beberapa bidang. Studi berbasis laboratorium dapat berfokus pada mikrobiologi, seperti mikroorganisme pengurai plastik, serta ekologi perairan untuk memahami perpindahan plastik di sepanjang rantai makanan. Dalam bidang kimia, penelitian dapat mengeksplorasi nanoplastik, pemanfaatan kitosan untuk menyaring mikroplastik dari tubuh manusia dan mikroplastik yang ada di udara. Penelitian berbasis teknik dapat diarahkan pada peningkatan sistem pengolahan air limbah. Sementara itu, kajian kebijakan dapat menelaah regulasi pengurangan plastik beserta kelebihan dan kekurangannya. Terakhir, studi manajemen dapat menelaah penerapan ekonomi sirkular serta analisis daur hidup yang secara khusus berfokus pada mikroplastik.

Daftar Pustaka :

  • Andrady, A. L. (2011). Microplastics in the marine environment. Marine Pollution Bulletin, 62(8), 1596–1605.
  • Baechler, B. R., Stienbarger, C. D., Horn, D. A., Joseph, J., Taylor, A. R., Granek, E. F., & Brander, S. M. (2020). Microplastic occurrence and effects in commercially harvested North American finfish and shellfish: current knowledge and future directions. Limnology and Oceanography Letters, 5(1), 113–136.
  • Chapman, C. A., Rothman, J. M., & Lambert, J. E. (2012). Primate foraging strategies and nutrition: behavioral and evolutionary implications. In The evolution of primate societies (pp. 149–168).
  • Chiba, S., Saito, H., Fletcher, R., Yogi, T., Kayo, M., Miyagi, S., & Fujikura, K. (2018). Human footprint in the abyss: 30 year records of deep-sea plastic debris. Marine Policy, 96, 204–212.
  • De Falco, F., Di Pace, E., Cocca, M., & Avella, M. (2019). The contribution of washing processes of synthetic clothes to microplastic pollution. Scientific Reports, 9(1), 6633.
  • Gandaseputra, M. M. (2024). Pengaruh kualitas cahaya dan mikroplastik polyethylene terephthalate terhadap pertumbuhan mikroalga dalam agregat perifiton [Unpublished undergraduate thesis]. Universitas Padjadjaran.
  • International Maritime Organization (IMO). (1988). International Convention for the Prevention of Pollution from Ships (MARPOL): Annex V . London: IMO.
  • Lestari, A. D., Afifah, F., Kinanti, D., Fitrianingtyas, S. A., Firdaus, N. A., Isna, N. N., & Muhammad, Y. (2024). The natural food composition of long-tailed macaque (Macaca fascicularis) inhabiting the Muara Angke Wildlife Reserve in North Jakarta. Bioma, 20(1), 41–50.
  • Napper, I. E., Davies, B. F., Clifford, H., Elvin, S., Koldewey, H. J., Mayewski, P. A., & Thompson, R. C. (2020). Reaching new heights in plastic pollution—preliminary findings of microplastics on Mount Everest. One Earth, 3(5), 621–630.
  • Nature on PBS. (2024). Meet the Army of Women Saving India’s Rarest Stork [Video]. YouTube.
  • Oriza, O., & Setyawati, R. T. (2019). Gangguan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) sekitar pemukiman di Desa Tumuk Manggis dan Desa Tanjung Mekar, Kecamatan Sambas, Kalimantan Barat. Protobiont, 8(1).
  • Priston, N. E., & McLennan, M. R. (2013). Managing humans, managing macaques: Human–macaque conflict in Asia and Africa. In The macaque connection (pp. 225–250).
  • Sengupta, A., McConkey, K. R., & Radhakrishna, S. (2015). Primates, provisioning and plants: impacts of human cultural behaviours on primate ecological functions. PLoS One, 10(11), e0140961.
  • Thamsenanupap, P., Pumipuntu, N., Tanee, T., Kyes, P., Karaket, A., & Kyes, R. C. (2024). First report of microplastics in wild long-tailed macaque (Macaca fascicularis) feces at Kosumpee Forest Park, Maha Sarakham, Thailand. Veterinary Sciences, 11(12), 642.
  • Thompson, R. C., Swan, S. H., Moore, C. J., & Vom Saal, F. S. (2009). Our plastic age. Philosophical Transactions of the Royal Society B , 364(1526), 1973–1976.
  • Wisewell. (2025). What are microplastics—and why are they harmful? Wisewell. Retrieved June 28, 2025.

Bagikan Wawasan

Facebook
X
LinkedIn
WhatsApp
Threads

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Scroll to Top