Setiap tanggal 1 Mei, kita biasa mengenang Hari Buruh, atau May Day. Tapi bagi saya, hari ini bukan cuma soal demonstrasi atau tuntutan upah. Ada cerita panjang tentang manusia—tentang bagaimana kita dulu berjuang, tentang bagaimana kita membangun dunia.
Di akhir abad ke-19, di banyak belahan dunia, para pekerja memperjuangkan hak-hak dasar: waktu kerja yang manusiawi, perlindungan, dan keadilan. Saat itu, bayangkan, 12 sampai 16 jam kerja sehari adalah hal biasa. Tidak ada jaminan, tidak ada keamanan kerja. Hidup mereka seperti roda yang terus berputar tanpa henti.

Sumber: https://www.tribunnews.com/nasional/2022/04/30/sejarah-may-day-hari-buruh-yang-muncul-dari-demonstrasi-besar-di-era-revolusi-industri-10.
Tapi perjuangan itu sesungguhnya bukan hanya soal jam kerja. Itu adalah bagian dari perubahan besar: saat manusia perlahan beralih dari dunia yang “mengikuti alam” menjadi dunia yang “menguasai alam.” Di sinilah kita bisa menganalisis perjalanan sejarah manusia melalui dua paradigma besar yang muncul—determinisme dan posibilisme.
Ketika Alam Menentukan Segalanya: Era Determinisme
Bayangkan zaman dulu, saat manusia sepenuhnya bergantung pada alam. Hujan, tanah subur, sungai, cuaca—semuanya menentukan cara kita hidup. Kalau tinggal di daerah gurun, kita harus mencari oasis. Kalau hidup di dataran tinggi, kita harus belajar bertani dengan metode berbeda.
Paham determinisme percaya bahwa lingkungan fisik menentukan budaya, ekonomi, bahkan nasib kita1. Manusia saat itu memang belum punya banyak pilihan: mereka hidup bersahabat dengan alam, mengambil secukupnya, dan menjaga keseimbangannya. Namun, determinisme juga membawa keterbatasan. Saat bencana atau kelangkaan sumber daya datang, manusia seolah tak berdaya. Semua dianggap takdir.
Seiring waktu, ketika jumlah manusia bertambah dan teknologi mulai berkembang, kita sadar bahwa hanya bergantung pada alam saja tidak cukup. Kita butuh jalan lain.
Ketika Manusia Mulai Membentuk Dunia: Era Posibilisme
Lalu, di abad ke-18 dan ke-19, datanglah Revolusi Industri. Mesin-mesin mulai berdentum, kota-kota tumbuh, dan kepercayaan baru lahir: bahwa manusia bisa mengubah nasibnya. Inilah awal dari paradigma posibilisme: manusia memiliki pilihan dan bisa membentuk lingkungannya2. Kita tidak lagi sepenuhnya menyerah pada alam. Kita menciptakan alat, mengembangkan teknologi, membangun jembatan, kanal, dan pabrik.
Tapi, di sinilah ironi mulai muncul. Semangat inovasi itu membawa kemajuan, tapi juga mempercepat eksploitasi alam secara besar-besaran. Sumber daya diekstraksi tanpa batas, emisi karbon mulai meningkat, dan ketimpangan sosial melebar. Pekerja—yang dulu memperjuangkan keadilan—justru ikut terjebak dalam sistem produksi yang, tanpa sadar, ikut merusak lingkungan.
Bukan karena mereka menginginkannya. Tapi karena sistem yang dibangun saat itu tidak mengenal keseimbangan antara pertumbuhan dan keberlanjutan.
Hari Ini: Mencari Jalan Baru
Kini, kita hidup di dunia yang berbeda. Krisis iklim tidak lagi jauh dari kita—ia nyata di depan mata. Banjir, kebakaran hutan, cuaca ekstrem, semuanya mengingatkan bahwa bumi ini memiliki batas. Kita dihadapkan pada pilihan: terus mempertahankan sistem lama, atau mulai membangun sesuatu yang baru.
Untungnya, semakin banyak orang yang memilih jalan baru. Kita mulai menggabungkan inovasi teknologi dengan kesadaran ekologis. Kita tidak lagi hanya bertanya, “Apa yang mungkin dilakukan?” tetapi juga, “Apa yang benar untuk bumi ini?”
Contohnya:
- Proyek restorasi hutan dan konservasi berbasis karbon3.
- Pengelolaan hutan berkelanjutan yang mengutamakan pelestarian ekosistem dan manfaat ekonomi jangka panjang4.
Semua ini adalah bentuk posibilisme baru—posibilisme yang tahu bahwa bumi juga harus dilindungi.
Refleksi: Bukan Lagi Memilih Salah Satu
Kalau kita lihat dalam-dalam, sebenarnya determinisme dan posibilisme bukan lawan. Mereka adalah dua sisi dari perjalanan kita.
Determinisme mengingatkan kita akan batas-batas alam. Posibilisme mengajarkan kita bahwa manusia bisa beradaptasi dan menemukan solusi. Kelemahan determinisme adalah sikap pasif. Kelemahan posibilisme adalah kesombongan untuk merasa bisa mengatur segalanya. Seperti para buruh dulu memperjuangkan keadilan, perjuangan kita hari ini adalah memperjuangkan keberlanjutan—bagi manusia dan bumi.
“Masa depan bukan tentang memilih antara menyerah pada alam atau menguasainya. Masa depan adalah tentang hidup bersama alam, dalam keharmonisan yang adil dan berkelanjutan.”
Perjuangan itu belum selesai. Tapi arah kita kini sudah jauh lebih jelas.
Untuk bumi yang lebih baik,
— Leo
Daftar Pustaka :
- Semple, Ellen Churchill. (1911). Influences of Geographic Environment: On the Basis of Ratzel’s System of Anthropo-Geography. New York: Henry Holt and Company.
- Vidal de la Blache, Paul. (1926). Principles of Human Geography. London: Constable and Company Ltd.
- Griscom, Bronson W., et al. (2017). “Natural Climate Solutions.” Proceedings of the National Academy of Sciences, 114(44), 11645–11650. https://doi.org/10.1073/pnas.1710465114
- Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO). (2015). Sustainable Forest Management Toolbox