Menjejak CINTA: Gajah Sumatera dari Monitor Satelit ke Tatapan Nyata

Sebagian besar orang mungkin membayangkan gajah sebagai hewan besar, gemuk, lucu, jinak, dan bisa ditunggangi dengan santai — bahkan lebih santai dibanding menunggang kuda. Tak jarang, gambaran tentang gajah hanya sebatas satwa kebun binatang, tunggangan wisata, atraksi sirkus, atau tokoh kartun yang menggemaskan. Namun, pengalaman pertama saya melihat langsung gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh telah benar-benar mengubah pandangan saya, bukan hanya terhadap gajah, tetapi juga terhadap semua satwa yang masih… “liar”.

Setelah lulus kuliah, saya mendapatkan kesempatan bekerja di sebuah organisasi non-pemerintah (NGO) yang bergerak di bidang konservasi satwa liar dan pelestarian habitat di Provinsi Jambi. Saya tergabung dalam tim mitigasi konflik antara gajah dan manusia. Tim kami bertanggung jawab memantau pergerakan kelompok gajah dan memperingatkan warga apabila kawanan tersebut mulai mendekati permukiman. Selain itu, kami membantu masyarakat menyiapkan langkah-langkah pengamanan agar manusia dan satwa sama-sama terlindungi tanpa harus saling melukai.

Lalu, bagaimana cara mengetahui lokasi kawanan gajah di area yang luas? Tentu bukan perkara mudah. Sebelumnya, kelompok gajah diidentifikasi terlebih dahulu. Pemimpinnya, betina paling besar, lantas dipasangi GPS collar, alat pemancar yang dilingkarkan di leher. Proses pemasangan alat ini sangat ketat dan tidak bisa sembarangan. Hanya dokter hewan dan tenaga profesional terlatih yang boleh melakukan, karena melibatkan prosedur penembakan bius dengan dosis yang harus sangat tepat.

Alat tersebut nantinya akan mengirim koordinat ke satelit dengan interval waktu tertentu sehingga kami dapat mendownload lokasi terbaru untuk memantaunya. Selain itu, alat tersebut juga bisa dipantau langsung dengan menggunakan radio telemetri jika jaraknya cukup dekat. Dengan mengarahkan antena radio telemetri, tim lapangan akan mendengar bunyi “bip… bip…” saat gajah berada dalam jangkauan. Semakin keras bunyi bip, berarti semakin dekat posisi gajah. Jika kelompok gajah bergerak mendekat ke permukiman, kami akan membekali masyarakat dengan meriam karbit, petasan, dan bunyi-bunyian lainnya, atau bahkan memasang pagar listrik bertegangan tinggi untuk menghalau mereka.

Beberapa bulan berlalu, saya belum juga berkesempatan bertemu langsung dengan gajah. Hanya jejak dan fesesnya saja yang pernah saya temukan. “Bersyukurlah,” kata salah satu teman setim saya, karena jika berhadapan dengan gajah liar, satu-satunya hal yang harus dilakukan adalah segera mengambil langkah panjang. Meski begitu, keinginan saya untuk melihat gajah secara langsung tak pernah surut.

Hingga akhirnya datanglah satu kesempatan. Sebuah acara televisi nasional* ingin meliput sekaligus mendokumentasikan gajah Sumatera secara langsung, dan saya termasuk dalam tim yang ditunjuk untuk memandu. Kebetulan, saat itu lokasi kelompok gajah yang dikenal sebagai kelompok “Cinta” berada di dekat Dusun Simarantitian.

Perjalanan dimulai pagi hari dengan menyeberangi Sungai Sekalo yang tidak memiliki jembatan. Beruntung, saat itu air sungai sedang surut, sehingga kami bisa langsung menyeberang tanpa harus menunggu beberapa hari, seperti ketika debit air naik dan arus menjadi deras. Mobil double gardan yang dilengkapi derek sling baja (winch) dapat langsung melintasi sungai, sedangkan sepeda motor diseberangkan secara gotong royong, sementara beberapa orang menyeberang menggunakan rakit. Kondisi jalan waktu itu pun cukup kering, sehingga perjalanan dapat ditempuh dalam beberapa jam saja. Di musim lain, perjalanan sejauh 12 km dari titik penyeberangan Sungai Sekalo bisa memakan waktu 6 hingga 8 jam karena jalanan berubah menjadi lumpur liat yang tebal, ditambah tanjakan, turunan, serta jembatan titian kayu yang harus dilewati dengan sangat hati-hati. Berbekal pengalaman sebelumnya, ketika sebuah mobil pernah terperosok di jembatan kayu, semua penumpang kini selalu turun setiap kali kendaraan hendak melintas, demi menjaga keseimbangan dan keamanan.

Sekitar tengah hari, kami tiba di akses jalan terdekat menuju titik terakhir keberadaan gajah. Kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Beberapa anggota tim segera mengeluarkan perangkat radio telemetri untuk melacak sinyal, sementara beberapa lainnya merintis jalan di dalam hutan. Kami beberapa kali berhenti untuk mencari jejak, beristirahat, orientasi arah, mengambil footage, atau sekadar mencopot pacet yang menempel di kaki. Hingga akhirnya, momen yang ditunggu pun tiba. Suara sibakan di lantai hutan dan suara retakan pohon-pohon kecil yang sedang disantap gajah mulai terdengar. Setelah mengemas kembali perangkat radio telemetri, semua anggota lantas bersiap.

Ahli kami menyarankan untuk melepas sepatu atau boot dan hanya memakai kaus kaki saat mendekati gajah. Selain meredam suara langkah, cara ini juga akan memudahkan kami jika sewaktu-waktu harus cepat memanjat pohon dalam situasi darurat. Saya pun selalu memperhatikan pohon-pohon besar di sekitar saya, berjaga-jaga kalau terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Tanpa perlu komando, suasana langsung hening. Semua percakapan terhenti, dan tim bersiap siaga.

Tak lama kemudian, dua ekor gajah sumatera pun terlihat. Seekor betina bernama “Cinta”, yang merupakan pemimpin kelompok, dan seekor jantan yang sedang “menggodanya” sambil memakan dedaunan serta merobohkan pohon kecil di sekelilingnya. Dari jarak sekitar 400 meter, pandangan ke arah mereka cukup terbuka, hanya terhalang sedikit semak-semak, sehingga kami bisa melihat keduanya dengan jelas tanpa bantuan teropong atau kamera zoom.

Sementara kameramen sibuk mengambil footage kedua gajah tersebut, anggota tim lain berjaga di sekitar area, mengantisipasi jika ada gajah lain mendekat dari arah yang tak terduga, karena biasanya satu kelompok gajah bisa berisi sekitar 30 individu.

Mungkin menyadari keberadaan kami, si jantan tiba-tiba mengeluarkan suara gemuruh rendah, suara lengusan, hingga suara terompet bernada tinggi yang menggetarkan tulang rusuk sekaligus menciutkan nyali kami. Seketika, adrenalin kami memuncak. Semuanya langsung siaga, menjaga diri agar tidak bertindak sembrono. Ahli gajah pun memberi isyarat agar kami mundur perlahan, sementara kameramen mengacungkan jempol, tanda bahwa footage yang dibutuhkan sudah didapat.

Akhirnya, kami mundur perlahan, meninggalkan kawanan gajah yang berhasil kami saksikan dengan selamat. Tersisa di hati perasaan bangga, bahagia, takut, sedih, dan rindu yang bercampur menjadi satu. Tapi ketakutan dan kesedihan yang saya rasakan bukan karena bertemu hewan liar sebesar itu. Bukan karena langkah kakinya yang mengguncang tanah atau suaranya yang menggetarkan tulang rusuk. Yang saya takutkan adalah bayangan bahwa mungkin suatu hari nanti, anak cucu saya tak akan pernah punya kesempatan untuk melihat apa yang saat itu saya lihat. Saya takut generasi mendatang hanya bisa mengenal gajah sumatera lewat foto usang di buku pelajaran atau tayangan dokumenter lama. Takut suara gemuruh langkah mereka hanya tinggal cerita, hutan tempat mereka bernaung hanya tinggal nama di peta.

Saat itu saya sadar, pertemuan singkat ini bukan sekadar pengalaman lapangan, melainkan sebuah pengingat yang mengetuk hati. Bahwa makhluk megah dan magis seperti gajah bukan hanya warisan alam, tapi juga bagian dari kisah kehidupan yang layak dijaga dan diperjuangkan. Hutan, rumah mereka yang dulu luas dan leluasa, kini kian menyempit, terdesak oleh berbagai kepentingan manusia. Saya ingin generasi mendatang masih berkesempatan untuk menyaksikan makhluk luar biasa itu hidup bebas di habitat aslinya. Karena jika bukan kita yang menjaga, siapa lagi? Dan jika tidak dimulai sekarang, sampai kapan kita akan menunggu?

Ditulis oleh : Moh. Faqih P. Ramlan (Head of Climate and Biodiversity)

Daftar Pustaka:

  • Metro TV. (2014). METRO TV 360 : GADING YANG RETAK [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=8U9Dx-jHFEk

Bagikan Wawasan

Facebook
X
LinkedIn
WhatsApp
Threads

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Scroll to Top