Hijau Belum Tentu Hidup: Ketika Ruang Terbuka Hijau Belum Menjadi Ruang bagi Biodiversitas

Meninjau kembali hubungan antara kesehatan manusia, ruang hijau, dan kebutuhan spesies lain untuk bertahan di kawasan perkotaan.

Ada satu pertanyaan sederhana yang belakangan muncul ketika saya melihat sebuah lanskap perkotaan:

“Tempat ini hijau, tetapi apakah benar-benar hidup?”

Sebagai Deputy Head of Office Operations di Dassa, pekerjaan saya sehari-hari lebih banyak berkaitan dengan pengelolaan dan operasional kantor. Namun, bekerja dalam ranah yang begitu dekat dengan isu konservasi, perlahan mengubah saya melihat berbagai persoalan di lingkungan sekitar: ruang-ruang hijau di perkotaan. Saya mulai bertanya, apakah keberadaan vegetasi yang tampak hijau dapat menunjukkan bahwa ruang tersebut mampu menyediakan habitat bagi spesies lain?

Sebuah ruang yang dipenuhi pepohonan dan vegetasi dengan mudah kita sebut sebagai ruang hijau. Kita melihatnya sebagai sesuatu yang baik, asri, dan bermanfaat. Tetapi, apakah keberadaan vegetasi saja cukup untuk membuat sebuah ruang dapat disebut hidup? Apakah ruang tersebut juga menyediakan tempat bagi burung, serangga, dan berbagai organisme lain untuk mencari makan, berlindung, berkembang biak, dan bertahan?

Gambar 1. Ruang Terbuka Hijau di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta. (Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia)

Dari sana, saya mulai melihat ruang hijau bukan hanya dari apa yang dapat diberikannya kepada manusia, tetapi juga dari kehidupan lain yang mungkin bergantung pada keberadaan ruang tersebut. Pertanyaan sederhana itu kemudian membawa saya pada pemikiran yang lebih luas mengenai ruang terbuka hijau (RTH), biodiversitas, dan bagaimana manusia seharusnya memandang ruang yang kita bagi dengan kehidupan lainnya.

Di titik ini, saya melihat sesuatu yang ironis dalam cara kita membicarakan alam. Kita sering kali baru menyadari pentingnya alam ketika fungsi dan manfaatnya bagi manusia mulai hilang. Ketika kota semakin panas, barulah kita bicara tentang pohon. Ketika kualitas udara memburuk, kita mulai memikirkan vegetasi. Ketika banjir datang, kita kembali mempertanyakan keberadaan ruang terbuka. Dan ketika kehidupan kota terasa semakin melelahkan, kita mencari taman sebagai ruang untuk bernapas.

Menariknya, kecenderungan untuk memahami ruang hijau dari apa yang tampak juga dapat ditemukan dalam berbagai penelitian. Pelizzari et al. (2026), misalnya, menunjukkan bahwa sebagian besar penelitian masih mengukur paparan ruang hijau melalui indikator seperti tutupan vegetasi, NDVI (Normalized Difference Vegetation Index), atau persentase area hijau, sementara indikator ekologis, seperti keberagaman jenis burung dan serangga, masih sering luput dari ukuran keberhasilan penilaian kualitas ruang terbuka hijau. Bahkan ketika biodiversitas mulai dikaitkan dengan kesehatan manusia, alam masih sering diterjemahkan melalui ukuran yang paling mudah dilihat dan diukur dari sudut pandang manusia: seberapa hijau suatu tempat dan seberapa dekat kita dengannya.

Di sinilah persoalan konservasi perkotaan menjadi lebih menarik. Sebuah taman dapat terlihat hijau, menurunkan suhu, menyediakan ruang rekreasi, dan membuat manusia merasa lebih nyaman, tetapi belum tentu menyediakan habitat yang cukup bagi burung, serangga, atau organisme lainnya.

Rumput yang dipangkas rutin, pohon ornamental yang ditanam seragam, dan lanskap yang sepenuhnya dirancang untuk aktivitas manusia mungkin memenuhi gambaran kita tentang “ruang hijau”. Namun, keberadaan vegetasi tidak otomatis berarti sebuah ekosistem berfungsi dengan baik.

Karena itu, pertanyaan tentang RTH seharusnya tidak berhenti pada “berapa banyak ruang hijau yang dimiliki kota?”, tetapi juga “seberapa hidup ruang tersebut?” dan “untuk siapa manfaat ruang itu?” Sebab, kota yang hijau belum tentu kota yang biodiversitasnya terjaga.

Kita sering menggunakan jumlah pohon sebagai salah satu indikator keberhasilan penghijauan. Semakin banyak pohon ditanam, semakin hijau sebuah kota. Logika tersebut berguna sampai batas tertentu, tetapi menjadi problematis ketika penanaman pohon dianggap identik dengan konservasi.

Konservasi biodiversitas membutuhkan lebih dari sekadar vegetasi. Ada hubungan ekologis yang perlu terjaga. Spesies membutuhkan sumber makanan, tempat berlindung, tempat berkembang biak, serta konektivitas dengan habitat lain. Karena itu, sebuah taman kecil yang terisolasi oleh jalan dan bangunan mungkin tetap memiliki nilai ekologis, tetapi fungsinya tidak dapat disamakan begitu saja dengan habitat yang terhubung dengan ekosistem lain.

Penelitian Khoirunisa yang dipublikasikan dalam jurnal Urban Ecosystem menunjukkan bahwa konservasi biodiversitas di kawasan perkotaan tidak hanya bergantung pada keberadaan ruang hijau yang luas, tetapi juga pada konektivitas antara habitat yang terfragmentasi. Dalam konteks ini, persoalan konservasi perkotaan bukan hanya tentang berapa luas ruang hijau yang tersedia, tetapi juga apakah ruang-ruang tersebut masih terhubung dan dapat digunakan satwa untuk bergerak.

Ini mengubah cara kita melihat ruang hijau. Taman bukan hanya tempat manusia datang. Ia juga dapat menjadi bagian dari jaringan habitat. Dan ketika jaringan tersebut terputus, yang hilang bukan hanya pemandangan hijau, melainkan juga kemampuan spesies untuk bergerak. Sebaliknya, ruang hijau yang terisolasi dapat kehilangan sebagian fungsi ekologisnya meskipun tetap terlihat hijau dari udara. Dengan demikian, persoalan konservasi perkotaan bukan hanya tentang berapa luas ruang hijau yang tersedia, tetapi bagaimana ruang tersebut tersusun dan apa yang dapat hidup di dalamnya.

Kita mengatakan bahwa ruang hijau penting karena dapat membuat manusia lebih sehat. Kita mengatakan bahwa biodiversitas penting karena manusia mendapatkan manfaat dari sebuah ekosistem. Kita menyelamatkan hutan karena hutan menyimpan karbon. Kita menjaga mangrove karena mangrove melindungi pesisir. Kita menanam pohon karena pohon menurunkan suhu. Semua alasan tersebut valid.

Namun, jika seluruh argumen konservasi selalu dimulai dari pertanyaan “apa manfaatnya bagi manusia?”, kita mungkin sedang mempertahankan alam dengan logika yang sangat antroposentris: alam dianggap layak dipertahankan sejauh ia berguna bagi manusia. Padahal, kehidupan di alam tidak selalu harus kita terjemahkan berdasarkan manfaat langsung yang dapat kita terima. Seekor burung tak perlu bernilai ekonomi agar habitatnya layak dipertahankan. Serangga tak harus memberi jasa ekosistem agar keberadaannya dihargai. Bahkan organisme yang mungkin tidak pernah kita lihat sekalipun tetap menjadi bagian penting dari jaringan kehidupan yang jauh melampaui kebutuhan manusia.

Ini bukan argumen untuk mengabaikan kebutuhan manusia. Justru sebaliknya. Pendekatan konservasi yang matang perlu mengakui bahwa manusia dan biodiversitas hidup dalam sistem kehidupan yang sama dan saling terhubung. Karena itu, keberhasilan konservasi perlu dilihat secara lebih utuh: bukan hanya dari manfaatnya bagi manusia, tetapi juga dari kemampuan alam untuk tetap menopang kehidupan di dalamnya.

Gambar 2.  Burung gereja eurasia sedang bertengger di atas pohon. (Foto: Creepanta/commons.wikimedia.org)

Selama ini, solusi terhadap persoalan lingkungan perkotaan sering dimulai dengan satu pertanyaan:

  • Berapa banyak ruang hijau yang kita punya?

Mungkin pertanyaannya harus diubah,

  • Berapa banyak habitat yang masih saling terhubung?
  • Berapa banyak spesies yang masih punya ruang untuk bergerak?
  • Berapa banyak ruang yang menyediakan makanan dan tempat berkembang biak?
  • Berapa banyak sungai yang masih berfungsi sebagai ekosistem, bukan sekadar saluran air?
  • Berapa banyak ruang hijau yang dikelola dengan mempertimbangkan biodiversitas, bukan hanya estetika?

Dan yang paling penting:

  • Berapa banyak pembangunan yang masih kita izinkan sebelum ruang hidup spesies lain benar-benar terfragmentasi?

Gambar 3.  Dinamika pembangunan kawasan modern Jakarta di tengah tantangan pemenuhan rasio lahan hijau kota. (Foto: thamrinnine.com)

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita keluar dari sekadar diskusi mengenai taman. RTH kemudian menjadi bagian dari persoalan konservasi yang lebih besar: Bagaimana manusia membagi ruang dengan spesies lain.

Mungkin ini bagian paling tidak nyaman dari seluruh pembicaraan tentang ruang hijau. Kita mengatakan bahwa kita perlu menyelamatkan alam agar manusia dapat hidup lebih baik. Kita menanam pohon agar kota lebih sejuk. Kita mempertahankan taman agar masyarakat terhindar dari stres. Kita menjaga biodiversitas agar ekosistem tetap menyediakan jasa bagi kehidupan manusia.

Semua itu benar.

Tetapi konservasi tidak seharusnya hanya menjadi proyek untuk membuat kehidupan manusia lebih nyaman. Sebab ketika sebuah taman hanya dinilai berdasarkan seberapa nyaman manusia duduk di dalamnya, kita kehilangan kesempatan untuk melihat bahwa ruang tersebut juga merupakan habitat. Ketika sebuah pohon hanya dihitung berdasarkan kemampuan menyerap karbon, kita lupa bahwa ia mungkin menyediakan tempat berlindung bagi puluhan kehidupan lainnya. Ketika sebuah hutan hanya dipertahankan karena mampu menyimpan karbon, kita berisiko mengabaikan spesies yang keberadaannya tidak pernah masuk ke dalam kalkulasi ekonomi.

Gambar 4.  Kondisi alami Hutan Kota Srengseng yang berfungsi sebagai kawasan konservasi dan ruang hidup keanekaragaman satwa. (Foto: Suci Wulandari Putri/Kompas)

Karena itu, RTH seharusnya tidak hanya menjadi ruang bagi manusia untuk menikmati alam, tetapi juga ruang bagi alam untuk tetap hidup. Dan mungkin di situlah letak tantangan konservasi perkotaan yang sebenarnya. Bukan bagaimana membuat kota terlihat lebih hijau, tetapi bagaimana membuat kota bersedia berbagi ruang dengan kehidupan lain.

Jika RTH ingin menjadi bagian dari konservasi, cara kita merencanakan dan mengelolanya perlu berubah. Keberhasilannya tidak cukup diukur dari luas vegetasi atau jumlah pohon, tetapi juga dari kualitas habitat, keragaman spesies, dan konektivitas ekologis. RTH juga tidak harus hadir sebagai taman yang berdiri sendiri. Koridor sungai, jalur hijau, sempadan, pekarangan, hingga vegetasi di sepanjang jalan harus dirancang dengan mempertimbangkan jaringan habitat yang memungkinkan spesies bertahan dan bergerak.

Cara kita mengelola ruang hijau juga perlu mempertimbangkan kehidupan yang ada di dalamnya. Lanskap yang terlihat rapi belum tentu selalu menjadi kondisi terbaik bagi biodiversitas. Pada bagian tertentu, memberi ruang bagi vegetasi untuk tumbuh lebih alami justru dapat menyediakan makanan, tempat berlindung, dan habitat bagi berbagai spesies. Taman yang lebih “liar” bukan berarti tidak terurus. Bisa jadi, kita hanya perlu menggunakan ukuran keberhasilan yang berbeda.

Tantangan kita bukan sekadar membuat kota terlihat lebih hijau, tetapi menciptakan kota yang mampu memenuhi kebutuhan manusia tanpa terus menghilangkan ruang hidup spesies lain. Sebab, tidak semua ruang hijau harus menjadi ruang rekreasi; sebagian juga perlu menjadi ruang bagi alam untuk tetap hidup.

Karena pada akhirnya, kota yang benar-benar berkelanjutan bukan kota yang memiliki banyak taman, melainkan kota yang menyadari bahwa manusia tidak pernah benar-benar hidup sendirian.

Dan mungkin, ketika melihat sebuah ruang hijau, pertanyaan kita tidak lagi berhenti pada “seberapa hijau tempat ini?”, tetapi juga “seberapa banyak kehidupan yang masih bisa bertahan di dalamnya?”

  • Pelizzari, N., Alias, C., Tiboni, M., Bertolazzi, A., & Zani, C. (2026). Does the biodiversity of urban green spaces impact on human health? A systematic review of literature. BMC Public Health. https://doi.org/10.1186/s12889-026-28039-z
  • Khoirunisa, R., Permanasari, E., Saputra, M. R. U., Hällfors, M. H., Prescott, M. F., & Lechner, A. M. (2026). Connecting urban green spaces: The importance of irregular settlements in biodiversity and peri-urban planning. Urban Ecosystems, 29, Article 115. https://doi.org/10.1007/s11252-026-01975-9

Bagikan Wawasan

Facebook
X
LinkedIn
WhatsApp
Threads

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Scroll to Top