Memahami Krisis Iklim melalui Sphere Keamanan Manusia dan Lingkungan

Lini masa media sosial kita beberapa waktu terakhir ini dipenuhi berbagai berita, termasuk salah satunya konflik yang tengah terjadi di kawasan Timur Tengah. Konflik antara Iran, Amerika Serikat dan Israel membawa dampak yang terasa, baik secara langsung maupun tidak langsung, bagi berbagai negara, tidak terkecuali Indonesia. Mulai dari tekanan ekonomi global, lonjakan harga minyak dunia, hingga ancaman krisis energi (Al Jazeera, 2026). Dampak tersebut juga meluas hingga memunculkan kekhawatiran dan ketidakamanan akibat konflik yang sulit bisa diprediksi eskalasi maupun penurunannya.

Gambar 1. Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. (Foto: CNBC Indonesia)

Akan tetapi, jauh sebelum konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel terjadi, sebenarnya kita sudah lebih dulu menghadapi rasa “tidak aman”. Rasa tidak aman tersebut berasal dari sesuatu yang bahkan tidak kita sadari sebagai sebuah ancaman. Faktanya, ancaman terbesar tidak selalu datang secara tiba-tiba seperti perang, melainkan juga bisa berkembang secara perlahan, seperti krisis iklim yang sebenarnya sudah kita rasakan sejak lama. Mulai dari perubahan cuaca ekstrem, banjir, kekeringan, hingga penurunan kualitas lingkungan. Namun, tidak semua orang melihatnya sebagai ancaman “keamanan” dalam arti yang sebenarnya. Ketika kita melihat lebih jauh lagi, rasa ”tidak aman” sebenarnya tidak hanya hadir dalam lingkup negara, tetapi juga merambah aspek lain yang menyentuh kehidupan manusia secara menyeluruh (Caballero-Anthony, Emmers, & Acharya, 2016).

Gambar 2. Konsep Human Security UNDP 1994

United Nations Development Programme (UNDP) telah mengelompokkan keamanan manusia ke dalam tujuh aspek, yaitu ekonomi, pangan, politik, kesehatan, individu, komunitas, dan lingkungan. Hal ini menunjukkan adanya perluasan pemahaman terhadap konsep keamanan itu sendiri, yang awalnya hanya berputar pada keamanan tradisional (militer) menjadi mencakup dimensi non tradisional (non-militer). Oleh karena itu, penting untuk kita kemudian memahami korelasi antara keamanan manusia dan lingkungan dalam satu paham yang pasti, khususnya bagaimana krisis iklim dan kerusakan lingkungan dapat memengaruhi keamanan manusia itu sendiri.

Dalam sphere keamanan manusia, lingkungan tidak lagi dipandang sebagai isu eksternal, melainkan sebagai fondasi utama keberlangsungan hidup manusia. Krisis iklim menunjukkan bahwa ancaman terhadap keamanan manusia kini bersifat multidimensi, melampaui batas-batas keamanan tradisional yang hanya berfokus pada konflik militer. Dalam konteks ini, keamanan manusia dan keamanan lingkungan berada dalam satu ruang yang saling terhubung. Dimana kerusakan lingkungan yang terjadi secara langsung dapat berdampak pada kerentanan sosial, ekonomi, dan kesehatan masyarakat.

Selama terlibat dalam beberapa proyek dan melihat langsung kondisi di lapangan bersama Dassa, nyatanya dampak berantai dari krisis iklim ini telah sampai menyentuh tangan masyarakat. Mulai dari terbatasnya akses terhadap kebutuhan primer, seperti air, hingga belum meratanya pendidikan dan layanan kesehatan. Di sisi lain, hilangnya keanekaragaman hayati juga menunjukkan berkurangnya kekayaan hutan sebagai penopang utama keberlanjutan ekosistem. Sungai dan sumber mata air yang dulunya menjadi sumber penghidupan masyarakat, kini tidak lagi bisa dimanfaatkan akibat kerusakan lingkungan yang terus terjadi. Pengalaman tersebut memberikan saya pemahaman bahwa keamanan manusia dan lingkungan pada dasarnya berada dalam satu sphere yang saling terhubung. Namun, nyatanya masih terdapat celah dalam sphere tersebut yang justru kerap kali memisahkan keamanan manusia dan lingkungan.

Gambar 3. Dokumentasi Lapangan bersama Dassa

”Lalu, bagaimana kemudian cara untuk menjaga keseimbangan sphere tersebut?”

Dalam lingkup yang lebih luas, salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah implementasi nature-based solution (NbS), salah satunya melalui proyek karbon berbasis hutan. Melalui mekanisme pengurangan emisi, restorasi ekosistem, serta penguatan kapasitas masyarakat, proyek karbon tidak hanya berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim, tetapi juga memperkuat ketahanan komunitas terhadap dampak lingkungan. Namun, yang terpenting adalah pemahaman bahwa proyek karbon bukan hanya tentang angka emisi atau target pengurangan karbon, tetapi juga tentang bagaimana memahami dinamika dan kebutuhan masyarakat secara lebih dekat dan tepat.

Selama ini, masih banyak anggapan bahwa kekayaan dalam bentuk materi, seperti kepemilikan harta dan uang dapat menjawab hampir seluruh kebutuhan kita sebagai manusia. Namun, ketika kita berbicara tentang peran hutan dan lingkungan dalam menopang kehidupan, pendekatan tersebut menjadi tidak lagi cukup. Alam bekerja dengan cara yang berbeda. Ada hubungan timbal balik yang membentuk sebuah siklus. Inilah mengapa kemudian lingkungan masuk sebagai salah satu aspek dalam keamanan manusia, karena lingkungan itu sendiri bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia.

Terlebih lagi bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan hutan, di mana hutan bukan sekadar sumber daya, melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari eksistensi mereka. Dengan demikian, proyek karbon harus memastikan bahwa kegiatan yang dilaksanakan merupakan ruang kolaborasi yang lahir dari masyarakat dan kembali untuk masyarakat. Melalui perlindungan hutan, pemulihan ekosistem, dan keterlibatan aktif komunitas lokal, proyek karbon menjadi upaya untuk menjaga keseimbangan antara keamanan manusia dan keberlanjutan lingkungan.

Gambar 4. Dokumentasi Lapangan

Pada akhirnya, ancaman terhadap keamanan manusia bukan lagi semata-mata hadir dalam bentuk konflik atau perang yang kasat mata, tetapi juga dalam wujud yang kian dekat dan nyata melalui krisis iklim.

”Jika perang mampu menimbulkan rasa ”tidak aman” dan kekhawatiran yang begitu nyata, mengapa tidak demikian pula dengan krisis iklim dan kerusakan lingkungan yang telah terjadi?”

Jawaban dari pertanyaan itu akan menentukan bagaimana keberlangsungan kita sendiri sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari lingkungan. Saya percaya bahwa setiap upaya untuk menjaga keberlangsungan lingkungan, baik keberlangsungan kita maupun keberlangsungan ekosistem, berawal dengan memiliki empati. Empati membantu kita memahami bahwa manusia hadir untuk saling menjaga, tidak hanya dengan sesama, tetapi juga dengan seluruh makhluk yang berbagi ruang hidup bersama. Empati menuntun kita untuk mampu memaknai arti dari hidup yang cukup dan berkelanjutan.

Bagikan Wawasan

Facebook
X
LinkedIn
WhatsApp
Threads

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Scroll to Top