I won’t give up HOPE!

Dari jendela kaca ruang kantorku, terlihat deretan gedung-gedung tinggi menjulang. Saat ku pandang ke bawah, terlihat mobil-mobil yang antri di jalan aspal Jakarta yang tampak keras dan bengis. Polusi yang dihasilkan bisa dengan mudah dihitung berdasarkan jumlah mobil yang lewat. Ditambah lagi, emisi dari AC gedung yang menjaga suhu ruanganku tetap dingin, meskipun di luar udara mencapai 35 derajat Celcius. Polutan yang keluar dari gedung-gedung besar dan deretan mobil yang terus antre memastikan kami, penghuni gedung, menikmati kenyamanan yang luar biasa.

Polutan terbang bebas ke atmosfir yang semakin tipis dan tidak dapat melindungi bumi dengan sempurna dari pemanasan global. Bumi sakit – Krisis iklim terjadi. What is climate crisis? Jika banyak orang berteriak lantang terkait krisis iklim maka kami “orang-orang kota” apakah harus bisa paham atau menaruh empati? Apakah krisis ini nyata untuk kami? Kenyamanan yang kami nikmati, keberuntungan kami atas fasilitas transportasi, mesin pendingin, industri maju dengan pabrik-pabrik besar, ternyata memiliki harga yang harus dibayar dengan mahal di tempat lain.

Nelayan harus memutar otak dan tenaga untuk menghadapi angin yang kini sulit diprediksi arahnya. Ikan yang dulunya mudah didapat di titik-titik tertentu kini hilang, mungkin karena mereka telah migrasi ke lokasi yang lebih aman. Rusman Mateka dan Mudin Sai contohnya, nelayan tuna di Kota Gorontalo, yang merasa kesulitan melaut akibat cuaca buruk yang sering datang dengan angin kencang dan gelombang tinggi, kondisi yang membuatnya tak bisa mencari nafkah. Rusman tak berani melaut dalam situasi berisiko dengan perahu kecil 3 GT. Meskipun telah melaut sejak muda dan mengikuti tradisi “kalisuwa dan lowanga” untuk memprediksi cuaca, perubahan iklim membuatnya sulit lagi mengandalkan metode tersebut, karena cuaca kini semakin tak menentu. Seiring waktu, hasil tangkapan pun semakin menipis, bahkan Rusman dan rekan-rekannya sering kali pulang tanpa membawa ikan. Perubahan pola migrasi ikan akibat meningkatnya suhu air laut semakin memperburuk kehidupan nelayan kecil seperti dirinya, yang kini terperangkap dalam kemiskinan. Krisis iklim, bagi mereka, benar-benar menggerus kehidupan secara nyata.

Petani pun menangis karena musim tanam yang kini tak menentu. Baru saja menanam bibit, banjir datang dan menghancurkannya. Di belahan dunia lain, bibit yang baru ditanam tak bisa berkembang dengan baik karena kekeringan yang tak berkesudahan. Bagaimana mungkin ada panen, jika yang ditanam hilang diterjang banjir atau badai, atau mengering akibat kekeringan? Contoh gagal panen terjadi di Jambi. Pemerintah Provinsi Jambi melalui UPTD Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Jambi mencatat sebanyak 129 ton padi gagal diproduksi akibat banjir.

Akibatnya krisis iklim, sumber daya laut berkurang, pasokan pangan menipis, dan harga terus melambung. Kaum papa adalah kelompok yang paling terdampak.

Apakah kita tahu? Ataukah kita sadar? 

Yang saya tahu, harga sembako naik, namun saya pribadi tidak begitu gusar dengan kenaikannya, masih sepadan menurut saya, dibanding dengan pph yang harus saya bayar untuk pajak, dan kemudian hasil pajak tersebut tidak digunakan dengan semestinya. Saya tidak terlalu merasakan dampak kenaikan bahan pokok tersebut, saya tidak merasakan langsung dampak krisis iklim.

Saya beruntung, namun apakah anak cucu saya seberuntung saya? Apa yang saya tinggalkan untuk mereka? Apakah yang lain juga seberuntung saya? 

Saya yakin kaum jelata menjerit, nelayan menangis, petani meraung, mereka terjerat kesulitan. Belum lagi binatang-binatang yang tidak bisa bersuara dengan bahasa manusia yang berteriak mereka telah kehilangan rumahnya, sumber makanan dan airnya. Krisis iklim perlahan menciptakan kiamat kecil di beberapa permukaan bumi, tejadi bagi kaum marginal yang powerless.

Semua harus seimbang – yes betul – lantas apa yang harus saya lakukan? Saya tidak bisa mengubah dunia? Saya tidak bisa menggerakan massa dalam jumlah besar… panik melanda pikiran saya. But I need to do something, I need to take part in the climate action. Bekerja dan mencintai dunia konservasi membawa saya banyak pelajaran, banyak hal, banyak kesempatan. Banyak hal yang dapat saya lakukan untuk ikut serta dalam aksi memitigasi perubahan iklim. Saya akan dengan sadar mengurangi emisi dengan cara sederhana yang saya mampu lakukan. Saya akan mengurangi penggunaan plastik, penggunaan AC, penggunaan kendaraan bermotor, dan mengajak kawan-kawan yang lain untuk ambil bagian dalam climate action yang notabene bukan perang kita sendiri-sendiri.

Dengan membawa semangat H.O.P.E : Heal Our Planet Earth, saya meyakini bahwa masa depan Bumi dan Indonesia bergantung pada peran kita semua. Kesadaran bersama dan tindakan nyata dari setiap pihak, mulai dari individu, pemerintah, hingga industri, sangat penting untuk mengurangi dampak krisis iklim, dan semoga dapat menghambat laju krisis iklim. Small step makes difference, kalau tidak sekarang, kapan lagi, kalau bukan kita, siapa lagi. Seorang teman bercerita bahwa anaknya sampai mengatakan, generasinya hanya akan mewarisi sampah, dan merekalah yang harus membersihkan sampah-sampah yang kita tinggalkan, sebagai akibat dari kesalahan kita. Jotosan telak ke ulu hati, he is damned right!.

But I wont give up HOPE!

Dengan optimisme saya bisa mengatakan bahwa pengurangan emisi karbon, dan pelestarian hutan, serta didukung dengan pemanfaatan energi terbarukan, merupakan langkah-langkah PENTING untuk menyelamatkan BUMI ini dan memastikan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.

SUMBER :

https://www.detik.com/sumbagsel/berita/d-7224949/129-ton-padi-di-jambi-gagal-panen-akibat-banjir-dan-perubahan-iklim

https://nationalgeographic.grid.id/read/134085225/pengaruh-mencairnya-es-kutub-terhadap-indonesia-bakal-tenggelam?page=all

Bagikan Wawasan

Facebook
X
LinkedIn
WhatsApp
Threads

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Scroll to Top