Peluang dari Tumpukan Limbah Organik, Ekonomi Sirkular sebagai Sustainable Production Tool

Rasanya sudah menjadi pekerjaan rumah bagi semua pihak untuk mulai mengubah kebiasaan penggunaan bahan bakar fosil menjadi energi yang lebih terbarukan. Terlebih, selama bertahun-tahun kita cenderung menganggap dampak krisis iklim sebagai sesuatu yang “normal”, padahal kondisi tersebut merupakan akumulasi dari konsumsi bahan bakar fosil yang telah berlangsung selama berabad-abad. Kenaikan suhu, terancamnya ekosistem flora dan fauna, hingga berbagai dampak lain yang akan memengaruhi masa depan merupakan sebagian konsekuensi yang kini mulai kita rasakan.

Kalau kata guru IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) saya saat SD (Sekolah Dasar), musim penghujan bisa diprediksi jatuh di bulan Oktober hingga April, menyusul musim kemarau di bulan-bulan berikutnya. Namun, sepertinya sekarang perubahan cuaca sudah tidak bisa lagi ditebak. Hujan bisa turun setiap hari di hampir seluruh wilayah Indonesia, lalu tiba-tiba berganti dengan panas yang begitu menyengat. Perubahan yang semakin sulit diprediksi ini menjadi salah satu dampak yang mulai kita rasakan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Sudah bukan lagi zamannya menganggap batu bara sebagai satu-satunya bahan bakar terbaik di era serba teknologi ini. Tanpa kita sadari, ternyata ada limbah organik yang ternyata memiliki nilai lebih dan bisa dimanfaatkan sebagai alternative fuel. Contoh sederhananya adalah limbah dari salah satu bahan pangan pokok utama masyarakat kita selain beras, yaitu jagung. Uniknya, penelitian Ramadhani, F., dkk. (2022) menyatakan bahwa limbah organik ini memiliki nilai kalor sebesar 4059,853 kal/gr. Artinya, semakin banyak limbah organik ini digunakan, maka semakin cepat pula proses pembakaran yang terjadi.

Gambar 1. Biomassa dari Limbah Organik Jagung (Foto: CeritaBaik INDONESIA.id, 2024)

Tahun lalu, saya berkesempatan menghitung dampak lingkungan yang timbul melalui penilaian daur hidup dari sektor semen menggunakan metode Life Cycle Assessment (LCA). Perusahaan semen tersebut berkomitmen untuk mengurangi ketergantungan pemakaian batu bara sekaligus berupaya mengurangi emisi, selaras dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 98 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon untuk Pencapaian Target Kontribusi yang Ditetapkan secara Nasional dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca dalam Pembangunan Nasional.

Sektor semen memiliki unit penting yang bernama klinker. Unit ini berfungsi sebagai unit pembakaran dan biasanya menggunakan 100% batu bara untuk proses produksi selanjutnya. Seperti yang kita ketahui, pembakaran batu bara memiliki dampak signifikan terhadap lingkungan seperti emisi GRK (Gas Rumah Kaca), emisi konvensional, pencemaran air, hingga efisiensi energi yang lebih rendah dibandingkan dengan energi terbarukan lainnya.

Kesadaran tersebut mendorong lahirnya inovasi baru di sektor semen, yaitu pemanfaatan limbah organik berupa bonggol jagung dari pertanian masyarakat sekitar sebagai bahan bakar pengganti. Inisiatif ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular yang menekankan penggunaan kembali, daur ulang, dan regenerasi sumber daya untuk menciptakan sistem produksi yang lebih berkelanjutan sekaligus meminimalisasi limbah.

Cerita ini bermula ketika perusahaan menggandeng masyarakat sekitar untuk memanfaatkan lahan bekas tambang tanah liat sebagai lahan pertanian. Dengan tujuan menambah nilai kebermanfaatan, sektor semen melakukan kerja sama dengan koperasi pertanian setempat untuk mengolah limbah organik berupa bonggol jagung menjadi bahan bakar alternatif. Proses tersebut dilakukan melalui pencacahan menggunakan mesin Refuse Derived Fuel (RDF). Setelah melalui proses pengolahan, hasil pencacahan tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai bahan bakar pengganti batu bara pada unit klinker.

Kabar baiknya, bentuk kerja sama ini tidak hanya menguntungkan kedua belah pihak, tapi juga berdampak positif bagi stakeholder lainnya. Dengan berkurangnya penggunaan batu bara, emisi dari bahan bakar fosil juga dapat ditekan, sekaligus mendorong seluruh rantai pasok untuk beradaptasi menuju praktik yang lebih berkelanjutan. Di sisi lain, limbah organik kini tidak lagi seluruhnya berakhir di TPA seperti sebelumnya. Inovasi ini turut membantu mengurangi emisi yang berasal dari proses dekomposisi limbah di landfill maupun dari aktivitas pengangkutan limbah menuju TPA. Namun, pihak yang merasakan dampak terbesar dari inovasi ini adalah sektor semen itu sendiri. Perusahaan dapat mengurangi emisi yang dihasilkan dari penggunaan batu bara sebagai bahan bakar utama dalam proses produksi semen.

Gambar 2. Keterkaitan Stakeholder dengan Supply Chain

Upaya ini tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga menghasilkan penghematan biaya bahan bakar sebesar Rp173.454.710 untuk produksi 9.888.328 ton semen ekuivalen, dengan nilai energi absolut yang dihasilkan mencapai 3.464,60 GJ. Meski demikian, capaian pengurangan emisi pada tahun 2023 masih berada jauh di bawah target perusahaan, yakni 0,8% dengan kapasitas produksi semen sebesar 700 ton per bulan (Sustainability Report sektor semen, 2023).

Perhitungan tersebut mengindikasikan bahwa dampak GWP (Global Warming Potential) justru mengalami kenaikan. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti konsumsi listrik dari mesin pencacah serta penggunaan solar untuk transportasi pengangkutan limbah organik. Namun, keberhasilan inisiatif ini tidak semata-mata diukur dari naik atau turunnya satu indikator lingkungan sebelum dan sesudah program dijalankan. Dalam konsep ekonomi sirkular, terdapat berbagai manfaat lain yang juga perlu diperhitungkan. Misalnya, adanya kebermanfaatan yang didapatkan dari berbagai pihak seperti peningkatan pendapatan supplier bahan baku limbah organik, sekaligus pengurangan limbah pertanian. Fakta ini menunjukkan bahwa sesuatu yang selama ini dianggap limbah tidak bernilai, ternyata memiliki nilai ekonomi, selama dikelola dengan cara yang tepat dan berkelanjutan. Melalui penerapan konsep ekonomi sirkular, sektor semen tidak hanya berupaya mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga mendorong efisiensi produksi melalui kolaborasi multipihak dan inovasi dalam rantai pasok untuk menghadapi tantangan krisis lingkungan global.

Daftar Pustaka:

  • Peraturan Presiden Republik Indonesia. (2021). Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 98 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon untuk Pencapaian Target Kontribusi yang Ditetapkan Secara Nasional dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca dalam Pembangunan Nasional. Jakarta: Pemerintah Pusat.
  • PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (2023). Embracing Challenges to Advance in a Sustainable Future. Jakarta: PT Semen Indonesia (Persero) Tbk.
  • Ramadhani, F., dkk. (2022). Energi biomassa berbasis limbah tongkol jagung di Pangkalpinang dengan serbuk kayu. Jurnal Teknik Mesin UNISKA, 7(2), 90.

Bagikan Wawasan

Facebook
X
LinkedIn
WhatsApp
Threads

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Scroll to Top