Hotspot: Peran dalam Proyek Karbon

Proyek karbon merupakan sebuah skema yang dibuat dalam rangka mendukung pencegahan deforestasi sekaligus konservasi keanekaragaman hayati. Berbagai pendekatan dalam konservasi menjadi penting untuk dipertimbangkan, mengingat kebutuhan biaya dan tenaga yang diperlukan dalam upaya tersebut. Salah satu pendekatan dalam mengkaji areal prioritas dalam konservasi adalah menggunakan konsep hotspot.

Konsep hotspot dalam ekologi pertama kali diperkenalkan oleh peneliti Inggris bernama Norman Myers di tahun 1988 (Myers 1988), di mana dia mengidentifikasi daerah dengan keanekaragaman hayati tinggi yang mengalami ancaman signifikan akibat aktivitas manusia, seperti deforestasi, perambahan lahan, dan perubahan penggunaan lahan. Awalnya terdapat total 10 lokasi yang teridentifikasi secara global, dan terus meningkat hingga 25 lokasi pada penelitiannya di tahun 2000 (Myers et al. 2000). Saat ini telah terdapat 36 lokasi biodiversity hotspot yang teridentifikasi secara global oleh Conservation International (CI) berdasarkan dua kriteria utama:

  1. Wilayah tersebut memiliki setidaknya 1.500 spesies tumbuhan vaskular endemik, dan
  2. Telah kehilangan lebih dari 70% habitat alaminya (Conservation International, 2025).

Apa tujuan dari identifikasi ini? Biodiversity hotspot mencerminkan penetapan area prioritas konservasi yang mendukung penghematan biaya konservasi. Hal ini sangat diperlukan mengingat perkembangan kehidupan manusia terus menerus menggusur ekosistem yang ada yang membahayakan keanekaragaman hayati dengan laju yang mengkhawatirkan.

(Peta biodiversity hotspot Myers, 2000)

Berdasar peta tersebut, terlihat bahwa dari identifikasi serta kriteria biodiversity hotspot, tiap wilayahnya memiliki luasan areal berskala besar. Bahkan dalam peta tersebut terlihat bahwa negara tercinta kita (Indonesia), masuk dalam dua wilayah biodiversity hotspot, yaitu Sundaland dan Wallacea. Hal ini menyatakan bahwa sebagian besar Indonesia memiliki potensi keanekaragaman hayati tinggi dengan ancaman yang tinggi juga.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, identifikasi kawasan prioritas konservasi telah dibuat dalam skala global oleh Myers di tahun 2000, dan juga oleh peneliti lainnya dalam skala regional. Namun keberadaan hotspot skala kecil pada tingkat kawasan konservasi, di mana kegiatan konservasi berbasis lapangan dilakukan, masih banyak diabaikan. Padahal pada skala ini, seperti lanskap beberapa kilometer hingga puluhan meter, konservasi menjadi sangat penting. Oleh karenanya, muncullah konsep lain yaitu micro-hotspot.

Micro-hotspot didefinisikan sebagai area kecil yang memiliki konsentrasi spesies endemik dan langka yang sedang terancam pada skala lanskap. Perhatian utama dalam konsep ini adalah spesies endemik lokal yang merupakan spesialis habitat, karena mereka menghadapi risiko kepunahan tertinggi (Grant dan Samways 2011). Micro-hotspot berfokus pada area yang lebih kecil dalam biodiversity hotspot yang lebih luas. Identifikasi micro-hotspot memungkinkan tindakan konservasi yang lebih fokus dan efektif pada skala lokal.

Beberapa penelitian seperti oleh (Simaika dan Samways 2009) dan (Vasconcelos et al. 2020), menunjukkan bahwa micro-hotspot bisa berupa lokasi dalam skala kecil, baik berupa zona persebaran capung di sekitar badan air maupun keberadaan pohon tertentu seperti Dracaena cinnabari. Lokasi-lokasi ini merupakan prioritas konservasi di dalam areal lindung yang juga teridentifikasi sebagai biodiversity hotspot. Oleh karenanya, identifikasi micro-hotspot menjadi penting untuk memastikan bahwa upaya konservasi mencakup semua tingkat keanekaragaman hayati termasuk spesies target dan habitat dengan distribusi yang terbatas namun signifikan dalam ekosistem.

Proyek karbon memiliki tujuan utama untuk mitigasi perubahan iklim melalui perlindungan dan restorasi hutan. Proyek ini seringkali berada pada wilayah-wilayah yang termasuk dalam biodiversity hotspot, contohnya seperti di Kalimantan dan Sumatra (Sundaland biodiversity hotspot). Hal ini dikarenakan areal hutan dalam kawasan tersebut tidak hanya menyimpan karbon dalam jumlah besar, tetapi juga mendukung keanekaragaman hayati yang luar biasa (Gibbs et al. 2007).

Konsep atau pendekatan micro-hotspot dalam skala yang lebih kecil dapat digunakan untuk mengidentifikasi wilayah-wilayah prioritas dalam proyek. Hal ini memungkinkan integrasi antara konservasi biodiversitas dan mitigasi karbon, sehingga memberikan manfaat yang lebih besar bagi lingkungan dan masyarakat lokal di sekitarnya.

Konservasi micro-hotspot dalam proyek karbon juga membantu meningkatkan ketahanan ekosistem terhadap perubahan iklim dengan mempertahankan spesies dan ekosistem kunci yang berperan dalam siklus karbon dan siklus hidrologi (Malhi et al., 2008). Dengan demikian, keberhasilan proyek karbon tidak hanya bergantung pada penyerapan karbon tetapi juga pada pemeliharaan keanekaragaman hayati yang mendukung kestabilan ekosistem.

Konsep hotspot, biodiversity hotspot, dan micro-hotspot sangat relevan dalam konteks proyek karbon. Keanekaragaman hayati yang tinggi di wilayah proyek karbon menjadikannya target utama untuk konservasi dan restorasi guna mencapai tujuan mitigasi perubahan iklim. Melalui pendekatan berbasis lanskap yang mempertimbangkan tidak hanya stok karbon tetapi juga nilai ekologi suatu wilayah, proyek karbon dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi ekosistem dan masyarakat setempat.

Referensi :

Conservation International. (2025). Biodiversity Hotspots. Retrieved from https://www.conservation.org/priorities/biodiversity-hotspots

Gibbs, H. K., Brown, S., Niles, J. O., & Foley, J. A. (2007). Monitoring and estimating tropical forest carbon stocks: Making REDD a reality. Environmental Research Letters, 2(4), 045023.

Grant, P. B. C., & Samways, M. J. (2011). Micro-hotspot determination and buffer zone value for Odonata in a globally significant biosphere reserve. Biological Conservation, 144(2), 772–781. https://doi.org/10.1016/j.biocon.2010.11.008

Malhi, Y., Aragão, L. E. O. C., Galbraith, D., Huntingford, C., Fisher, R., Zelazowski, O., & Meir, P. (2008). Exploring the likelihood and mechanism of a climate-change-induced forest dieback. Philosophical Transactions of the Royal Society B.

Myers, N. (1988). Threatened biotas: “Hot spots” in tropical forests. The Environmentalist, 8(3), 187–208. https://doi.org/10.1007/BF02240252

Myers, N., Mittermeier, R. A., Mittermeier, C. G., da Fonseca, G. A. B., & Kent, J. (2000). Biodiversity hotspots for conservation priorities. Nature, 403(February), 853–858.

Simaika, J. P., & Samways, M. J. (2009). An easy-to-use index of ecological integrity for prioritizing freshwater sites and for assessing habitat quality. Biodiversity and Conservation, 18(5), 1171–1185. https://doi.org/10.1007/s10531-008-9484-3

Vasconcelos, R., Pujol-Buxó, E., Llorente, G. A., Saeed, A., & Carranza, S. (2020). Micro-hotspots for conservation: An umbrella tree species for the unique Socotran reptile fauna. Forests, 11(3), 1–10. https://doi.org/10.3390/f11030353

Bagikan Wawasan

Facebook
X
LinkedIn
WhatsApp
Threads

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Scroll to Top