Kapuas Hulu, Kalimantan Barat — Dalam perjalanan sehari bersama komunitas Dayak Iban, saya diajak menyusuri kehidupan yang begitu dekat dengan alam. Desa mereka berada di tepian hutan, sangat jauh dari hiruk pikuk kota, namun memiliki tatanan sosial yang matang dalam mengelola sumber daya.
Di sana, uang tunai hanya benar-benar dibutuhkan untuk hal-hal yang prinsip dan krusial: biaya pendidikan anak-anak, kebutuhan kesehatan, serta modal untuk berladang dan bercocok tanam. Kebutuhan pangan sehari-hari mereka terpenuhi dari supermarket alam, di hutan dan sekitar desa. Ikan dari sungai, sayuran liar dari hutan, dan hasil ladang kecil menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.
Hal mengesankan lainnya adalah adanya kesepakatan sosial bersama tentang pemanfaatan sumber daya alam yang digunakan. Mereka hanya mengambil secukupnya, sesuai kebutuhan rumah tangga, dan tidak untuk diperjualbelikan. Ada aturan tak tertulis yang ditaati oleh seluruh anggota masyarakat: hutan bukan komoditas, melainkan sumber kehidupan yang harus dijaga bersama.
Nilai-nilai prinsip ini kemudian diramu guna menjadi solusi atas krisis iklim dunia dalam Nature-based Solutions (NbS) dengan kerangka skema Joint Crediting Mechanism (JCM) untuk kredit karbon antara Pemerintah Indonesia dan Jepang. Pemerintah Indonesia telah membuka peluang bagi sektor swasta untuk berperan dalam pengelolaan hutan melalui mekanisme ini. Namun, penting untuk menegaskan bahwa pemberian izin kepada pihak swasta bukan untuk mengambil alih atau mengalihfungsikan hutan yang ada, melainkan untuk memperkaya, memulihkan, dan memperkuat fungsi hutan dengan tujuan utama meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal yang juga berdampak pada iklim global.

Melihat kehidupan masyarakat Dayak Iban mengingatkan saya bahwa keberhasilan skema NbS bukan hanya soal menghitung ton karbon yang terserap, tetapi tentang memastikan bahwa masyarakat yang telah menjaga hutan selama turun-temurun mendapatkan manfaat yang adil. Mereka bukan penerima pasif, tetapi penjaga aktif dari ekosistem yang menjadi fondasi keberlanjutan kita semua.
Perjalanan singkat ini memberi perspektif mendalam bahwa keberlanjutan sejati lahir dari harmoni antara manusia dan alam, bukan dari dominasi salah satunya. Dalam konteks pengembangan proyek karbon, penting bagi kita untuk menyamakan visi, yaitu bahwa setiap intervensi harus berpijak pada kearifan lokal dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat penjaga hutan.
Ditulis oleh : Melita Ruchiyat (Head of Government Liaison), 5 Oktober 2025